KULINER

Jelajah Sejarah dan Rasa Kuliner Tradisional Aceh di Warung Jame

A. Firdaus
Jumat 27 Mei 2022 / 15:15
Jakarta: Saat ini warung atau restoran Aceh berjamuran di Jakarta. Bahkan bisa kamu jumpai meski di jalan-jalan dekat rumah.

Layaknya rumah makan Aceh, wajib untuk menyajikan menu andalan seperti Martabak, Mie Aceh, Nasi Goreng Aceh, Teh Tarik, dan Kopi Aceh. Tapi ada satu warung makan Aceh bernama Warung Jame yang memiliki slogan menarik tapi menyentuh, yaitu 100% Aceh.

Rasa penasaran kami pun bergejolak, apakah 100% Aceh yang dimaksud hanya sekadar memiliki bahan-bahan dari Aceh untuk menyajikan menu khas Serambi Mekah seperti Mie, Nasi Goreng, atau Kopinya? Tetapi kami justru menemukan jawaban yang berbeda ketika menyambangi warung makan yang berada dekat pertigaan yang mempertemukan Jl. Duren Tiga, Jl. Pancoran, dan Jl. Pasar Minggu ini.
 

Kuliner Aceh bukan sekadar Martabak, Mie, atau Kopi


Bertemu dengan founder Jame, Juanda Maulana, kami mencoba mengulik alasannya mengapa membuka warung makan Aceh, selain dirinya yang merupakan Putra Aceh. Maulana, begitu panggilannya, menjelaskan secara detail mengapa ia membuka warung makan Aceh.

"Saat Covid-19 datang, semua teman-teman kerja di rumah. Kebetulan saya dari Aceh, tapi selalu memesan makan dari online, tapi lama kelamaan kok apa yang saya makan gini-gini aja," ujar Maulana membuka pembicaraan.

Di situ Maulana mulai mendapatkan 'bisikan' untuk bisa membuka usaha, yang bisa membuat orang di Jakarta bisa merasakan apa yang diinginkannya, yaitu masakan tradisional Aceh.

"Karena selama ini kayaknya orang Jakarta cuma tahu martabak, mie Aceh, kopi sama teh tarik, jadi harus banyak tahu tentang masakan tradisional aceh," jelas pemuda asal Kota Langsa, 400 km dari Banda Aceh.

Dari situ, Maulana yang juga masih bekerja sebagai karyawan Telkom Satelit, merencanakan membuka usaha hal baru di dunia kuliner. Rencana yang ditekadkan dari 2020, ia merealisasikannya pada 30 Maret 2022.
 

Ayam Tangkap

 
Untuk menu yang ditawarkan, selain menu-menu mainstream seperti martabak, mie aceh, kopi, teh tarik, Warung Jame juga menawarkan masakan tradisional Aceh.



Contohnya Ayam Tangkap, yang merupakan ayam olahan khas Aceh. Rasa ayamnya gurih dan ada rasa manisnya, lantaran menggunakan Daun Temurui.
 

Sirebu


Ada juga Sirebu. Dalam sejarahnya dari orang Aceh dahulu, Sirebu merupakan hasil siasat mencegah daging menjadi busuk. Kemudian diberikan cuka yang cukup banyak, di mana bisa menjadikan Sirebu ini menjadi daging goreng atau rendang.

"Sejarahnya orang dulu enggak punya kulkas, jadi kalau ada daging, karena untuk mencegah daging itu membusuk, jadi orang Aceh mensiasatinya, dengan memberikan cuka banyak, dari cuka itu kemudian jadi rendang, dari cuka itu jadi daging goreng," kata Maulana.



Dari olahan penyimpanan daging ini, ketika digoreng rasanya juga masih tetap enak. Bumbu-bumbunya selain cuka, ada juga daun jeruk.

"Nantinya Sirebu ini bisa tahan dua bulan dan bisa langsung dimakan, digoreng atau dibuat rendang. Daging dan lemak rasanya asem," tambah Maulana.
 

Menu lainnya


Menu lainnya adalah Kari Kambing Koblangon, Bebek Mas Aceh, Kuah Belingu (daun melinjo sama melonjo), yang memiliki rasa agak asem. Masakah Aceh satu ini tak perlu ada sambal tambahan, karena di dalamnya sudah berasa pedas dan asam.

"Di Warung Jame ini, juga terdapat kue-kue khas. Seperti dimpan, yang merupakan olahan kue Aceh, di mana  di dalamnya terdapat kelapa srikaya dan daun pisang. Selebihnya, kami juga menjual merchandise, ada tas ada warung ada kerudung ada peci, parfum," terang Maulana.


 

Filosofi Jame


Proses pemilihan nama cukup panjang. Sebelumnya ingin memilih Aceh Rayo, karena mengangkat nama Aceh besar, tapi urung dilakukan karena sudah pernah ada warung makan itu.

"Terus kami ingin nama Rakan artinya rekan atau kerabat, tapi kayak terlalu simpel, jadi kami bertanya-tanya sama teman-teman, muncul lah Jame," katanya.



Dalam bahasa Aceh, Jamee itu tamu. Ada sebuah pepatah Aceh terkenal berbunyi 'Peumulia Jamee Adat Geutanyoe' artinya, memuliakan tamu adalah adat, motto, dan nilai hidup kita.

"Pada intinya, kami siap menjamu Anda sebagai tamu yang mulia," terang Maulana.
 

Dari Jame menuju Duta Aceh


Sementara itu, Robi selaku Bisnis Lead Jame mengatakan kalau ia dan rekan-rekannya punya mimpi dari Warung Aceh Jame ini, yaitu from local to global'.

Mimpi itu ditekadkan dengan cara memperkenalkan kekayaan kuliner Aceh ke seluruh dunia, hingga nantinya mereka bisa menjadi duta Aceh dalam mempromosikan semua hal tentang Aceh, baik itu kekayaan alam, pariwisata, budaya, adat, produk-produk lokal, dan sebagainya.

Untuk memulainya, Warung Jame telah memperkenalkan makanan tradisional dan juga produk-produk lokal ala Serambi Mekkah.

"Visi kami 100% Aceh. Kami enggak cuma all about Aceh, tetapi sejarahnya, adatnya. Nantinya kami akan ada foto dan deskripsi tentang Aceh. Baik itu Museum Tsunami, sejarah Masjid Baiturrahman, dan juga Cut Nyak Dien," terang Robi.

Saat ini, Warung Jame baru mempromosikan kreativitas dari UMKM Aceh. Seperti kain, bumbu, dan juga kopi.



"Ada Ija Kroeng, kalau artinya Kain Sarung. Kain ini bermotif ganja, kalau pemilik brand ini mengkamapanyekan kalau kain sarung itu bisa juga kok dipakai ke mal," kata Robi.

Ada Minyeuk Pret atau parfum. Parfum ini mengimplementasikan wangi khas Aceh seperti aroma Bunga Mejempa, Sanger Espresso, dan aroma kopi Aceh.

"Ada lagi bumbu merasa, artinya berasa banget. UMKM ini bikin produk kreatif asli Aceh yang bumbunya instan. Jadi jika kita mau bikin Mie Aceh, Ayam Tangkap, atau Mas Bebek Putih itu ada bumbunya," jelas Robi.

"Selain itu ada juga kami sediakan cokelat. Di sini kami menjual produknya Scolatte. Scolatte adalah UMKM kreatif Aceh dan bekerja sama dengan salah satu pertanian coklat di Aceh. Jadi sebagian hasil panen cokelat dikirim ke pasar, diekspor, sebagian ditampung dan diolah jadi bubuk cokelat," ungkap Robi.

"Ada produk kerajinan lokal ibu-ibu di kampung seperti kain tenun, tas, souvnir bros. Memang tak ada mereknya, karena memang ini produk kerajinan tangan yang masih UMKM banget," tandasnya.

Warung Aceh Jame
Jl. Duren Tiga Raya No.17, RW.7, Pancoran, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12760
08111049091/08111911677
(FIR)