KULINER

Saatnya Generasi Muda 'Melek' Kuliner Legendaris

A. Firdaus
Kamis 28 Oktober 2021 / 21:44
Jakarta: Kuliner luar negeri kian merebak di Indonesia. Kondisi ini, di satu sisi ada hal positif, namun di sisi lain bisa menimbulkan keprihatinan buat masa depan.

Pasalnya, generasi z atau milenial saat ini seakan dicekoki dengan varian kuliner dari luar. Mulai dari Boba, Takoyaki, atau pun Croffle yang baru-baru ini sedang hits.

Bukan tak mungkin, kuliner nusantara yang sebenarnya tak kalah lezat, terancam punah lantaran tak ada yang melestarikan atau sekadar menikmati makanan dan minuman khas Indonesia.

Atas dasar itu, Febrianto Rahmad, selaku Founder JIISCOMM Culinary mencoba menjaga kekayaan kuliner nusantara agar tetap lestari. Salah satu cara yang saat ini ia lakukan adalah dengan menggelar Kampoeng Legenda di Mal Ciputra.


Suasana Kampoeng Legenda di Mal Ciputra (Foto: A. Firdaus/Medcom.id)

Kampoeng Legenda merupakan festival untuk pelaku kuliner nusantara yang sudah melegenda. Event ini melibatkan setidaknya 60 pelaku usaha kuliner yang telah bertahan dari generasi ke generasi.

"Tujuan kami menggelar Kampoeng Legenda salah satunya adalah memperkenalkan generasi muda, supaya mereka tahu bahwa banyak kuliner-kuliner Indonesia yang eksis dari puluhan tahun yang lalu. Ada semangat entreprenuer yang ingin kami sampaikan kepada generasi muda," ujar pria yang akrab disapa Febri saat diwawancarai Medcom.id.

Febri menganggap generasi berikutnya terkesan belum mau meneruskan apa yang telah dilakukan pendahulu mereka. Untuk itu, ia berharap akan ada yang lebih peduli terhadap pelestarian kuliner nusantara.
 

Konsistensi hingga generasi keempat


Febri pun ingin para generasi muda agar melek dengan kuliner nusantara, terlebih yang sudah melegenda. Seperti apa telah yang dilakukan oleh Jenny, generasi ketiga dari Toko Oen yang ada di Semarang.


Dulu, Toko Oen ini menyediakan segala jenis makanan dan camilan. Mulai dari kue kering, hingga es krim yang memiliki ciri khas sejak zaman Belanda. (Foto: A. Firdaus/Medcom.id)

"Toko Oen telah ada sejak 1930 di Yogyakarta dan kemudian pindah ke Semarang pada 1936. Sekarang sudah ada tiga generasi yang menjaga agar Toko Oen ini tetap eksis. Bahkan Ibu Jenny sudah mempersiapkan generasi keempat untuk bisa melanjutkan usaha leluhurnya," terang Febri.

"Saya berharap, teman-teman legenda yang lain bisa mempersiapkannya. Seperti Kang Kus yang merupakan generasi ketiga Kupat Tahu Gempol di Bandung. Dan ini yang kami harapkan dari generasi yang berjalan dengan baik," sambungnya.
 

Agar tak terkubur oleh zaman


Menurut Febri, Generasi Z atau Generasi Milenial ini sudah berbeda. Mereka mungkin saat ini masih nyaman, karena ada orang tuanya yang memasak masakan Indonesia. Namun, jika orang tuanya sudah tidak ada, mereka akan kesulitan memasak masakan Indonesia dan ini akan menjadi masalah.

"Kami bahkan juga ingin mengembangkan melestarikan kuliner Indonesia dari rumah agar masakan nusantara tak terkubur oleh zaman," harapnya.


Febrianto Rahmad, owner JIISCOMM (Foto: A. Firdaus/Medcom.id)

Kendati demikian, Febri tak bisa juga menyalahkan bisnis saat ini, yang dianggap memudahkan orang memesan makanan hanya dengan jari. Tanpa repot-repot memasak di dapur, mereka bisa langsung menikmati.

"Sekarang Croffle lagi tren. Tapi Croffle dari mana asalnya? bukan asli Indonesia. Kemarin sempat ada Boba, padahal kita punya Dawet Ireng yang enak banget. Mungkin permasalahannya adalah soal packaging-nya mungkin (dawet) dianggap kurang menarik," terang Febri.
 

Merawat kuliner nusantara


Meski demikian, bukan berarti semua anak muda tak peduli. Masih ada beberapa anak muda yang peduli dengan kuliner Indonesia dengan mengemas makanan atau minuman asli Tanah Air secara menarik.

Selain itu, Febri juga mengapresiasi Mal Ciputra Jakarta yang mau 'menampung' gelaran Kampoeng Legenda, yang saat ini sedang berlangsung hingga 7 November mendatang.

"Padahal sebagian besar mal menonjolkan makanan-makanan yang modern atau kekinian. Sebanyak 80 persen yang menjual makanan kekinian, kemudian 20 persennya ada kuliner Indonesia, itu pun yang memiliki modal besar," jelas Febri.


Kupat Tahu Gempol telah ada sejak 1965 (Foto: A. Firdaus/Medcom.id)

Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi JIISCOMM yang merupakan wadah para pelaku kuliner nusantara yang ingin eksis. Terlebih pada masa pandemi, di mana banyak pelaku kuliner nusantara terdampak.

"Selain tempat seperti Kampoeng Legenda, kami juga mengadakan beberapa workshop bisnis digital kepada para pelaku kuliner, agar mereka bisa beradaptasi dan berkompetisi dengan bisnis saat ini. Jika tidak, mereka akan gagal," terangnya.

Menyelenggarakan event dengan tujuan menyadarkan generasi muda akan pentingnya merawat kuliner nusantara, bukan pertama kali dilakukan oleh JIISCOMM. Sebelumnya, Febri juga pernah mengadakan kuliner nusantara dengan mengundang publik figur muda, Yuki Kato.

"Anak-anak muda itu sebenarnya mereka suka dengan kuliner Indonesia, tapi mereka enggak tahu. Itu masalahnya. Saya sempat survei kecil-kecilan, dan hasilnya mereka enggak tahu kalau ada makanan Indonesia," terang Febri.
 

Anak muda tak tahu, bukan tak menyukai


Upaya Febri dengan JIISCOMM-nya nyatanya tak sia-sia. Pasalnya dengan hadirnya event seperti ini, anak muda sekarang jadi enggak cuma melek dengan makanan dan minuman kekinian atau yang cepat saji sekalipun.

Buktinya, upaya itu berdampak langsung pada Deli dan Septi, yang dengan sengaja datang dari Bogor demi mengunjungi Kampoeng Legenda di Mal Ciputra ini. Dua dara asal Kota Hujan ini mengaku sangat senang dengan adanya Kampoeng Legenda.

"Aku tahu event ini dari aplikasi Kemanayo. Aku mencoba Nasi Bali, Pempek, Es Duren, Cumi, Mie Crabs, dan masih banyak lagi," ujar Septi.


Septi dan Deli yang penasaran dengan Kampoeng Legenda (Foto: A. Firdaus/Medcom.id)

"Senang sekali karena selain makanannya yang banyak dan lihat dari atas cuplikan videonya, ternyata ada yang dari tahun 30-an. Aku enggak tahu kalau emang makanannya dari tahun segitu," sambung Septi.

Sementara bagi Deli, acara seperti ini tepat sasaran buatnya. Karena ia sebelumnya tidak tahu, ternyata makanan yang ia makan juga sudah puluhan tahun ada.
 
"Semua makanan yang aku coba enak, karena punya ciri khas masing-masing. Bagi aku acara ini sangat tepat sasaran. Karena aku sebelumnya emang enggak tahu ada makanan kayak gitu, lebih tahunya makanan cepat saji," ujar Deli sambil tersenyum.

Deli yang juga Mojang Pinilih Wakil II Kota Bogor 2017 ini, berharap, acara seperti Kampoeng Legenda akan ada terus ke depannya.

"Dengan adanya event ini aku jadi tahu ada makanan zaman dulu. Jadi aku berharap acara ini enggak cuma sekarang saja tapi nanti-nanti mesti ada," imbuh remaja putri bernama lengkap Dellylah Izhar Syami ini.

Kampoeng Legenda yang merupakan gelaran tahunan di Mal Ciputra, sudah menginjak tahun ketujuhnya. Dan pada event kali ini, mereka mengangkat tagline #LidahMerdeka yang sudah dimulai sejak Rabu 27 Oktober hingga Minggu 7 November mendatang.
(FIR)