FITNESS & HEALTH

Perkuat Kolaborasi, Tingkatkan Solidaritas Menuju 10 Tahun Akhiri AIDS di 2030

Sandra Odilifia
Rabu 02 Desember 2020 / 13:00
Jakarta: Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) bersama Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Indonesia (KSIMSI), memperingati Hari AIDS Sedunia dengan mengadakan web seminar bertajuk “Perkuat Kolaborasi, Tingkatkan Solidaritas”.

Tak hanya itu, kegiatan ini juga didukung oleh Durex Eduka5eks PT. Reckitt Benckiser (RB) Indonesia, organisasi kemahasiswaan AMSA dan CIMSA, serta Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kegiatan ini menekankan pentingnya kerja sama guna mencapai three zeroes pada 2030. Diharapkan pada 2020 ini, Indonesia telah siap menuju akhir HIV/AIDS sepuluh tahun mendatang, yaitu tidak ada infeksi HIV baru, tidak ada kematian karena AIDS, dan tidak ada stigma serta diskriminasi.

“Mengingat IMS (infeksi menular seksual) adalah salah satu pintu masuk penularan HIV/AIDS, kampanye dan edukasi seksual pada populasi remaja harus terus digiatkan. Stigma bahwa HIV mudah menular juga perlu diluruskan, jauhi penyakitnya bukan penderitanya," ujar dr. Hanny Nilasari, SpKK, Ketua Umum Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Indonesia (KSIMSI).

Hadir dalam acara ini, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan RI dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid. Ia mengungkapkan apresiasi dan pentingnya pemahaman masyarakat khususnya tentang IMS dan kesehatan reproduksi.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa di tengah kondisi pandemi saat ini, isu HIV/AIDS tidak boleh luput dari perhatian. Mengingat Permenkes No.4 tahun 2019 tentang Standar Teknis Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar pada Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan telah mengutamakan peningkatan promotif dan pencegahan preventif dari HIV/AIDS.

Berdasarkan data dari kemenkes tentang perkembangan HIV/AIDS dan PIMS pada triwulan II Tahun 2020 hingga Juni 2020, memperlihatkan bahwa estimasi jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) telah mencapai 543,100 orang, 398,784 orang telah ditemukan, dan hanya 205,945 ODHA yang baru memulai konsumsi ARV.

Selain itu, survei Durex Eduka5eks pada 2019 masih memperlihatkan bahwa topik IMS belum dibicarakan oleh konsumen remaja, orang tua, dan pasangan menikah. Bahkan 3 dari 10 kelompok remaja di lima kota besar Indonesia masih percaya bahwa berinteraksi dalam kegiatan sehari-hari bersama ODHA dapat menyebabkan penularan HIV/AIDS.

Oleh sebab itu, ketua tim penasihat kolegium PERDOSKI, Prof. dr. Sjaiful Fahmi Daili, SpKK(K) menekankan pentingnya pendidikan seks bagi remaja, sebagai kegiatan promotif dan preventif untuk memberikan tuntunan dan bimbingan kehidupan yang berkaitan dengan jenis kelamin, kehidupan mencintai, hingga rasa tanggung jawab.

Menurut dr. Sjaiful, kegiatan pendidikan seks ini harus senantiasa dipupuk sejak masa kanak kanak hingga dewasa. Ia pun menjelaskan adanya korelasi yang tinggi antara IMS dan HIV/AIDS, sehingga upaya preventif harus dimulai dari unit terkecil masyarakat yakni di keluarga.

Bagi organisasi profesi ini, edukasi seksual harus meliputi aspek moral, sosial, kesehatan, dan agama, di mana dokter akan berperan memberikan pengobatan dan pemerintah mendesain program dan regulasi.

Adapun lima langkah mudah untuk memahami pengetahuan tentang kesehatan seksual dan reproduksi oleh Eduka5eks yakni:


1. Ayo Pahami. Sikap terbuka untuk memperoleh lebih banyak informasi tentang kesehatan seksual dan organ reproduksi.

2. Mari Bicara. Berani untuk memulai percakapan.

3. Saling Menghargai. Menghargai pendapat dan keputusan orang lain.

4. Selalu Bertanggung jawab. Bertanggung jawab atas diri sendiri, pasangan kita, dan keluarga kita.

5. Pemeriksaan Kesehatan. Mulai melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
(FIR)