GADGET TALK

Spesial, Halaman Batik di Google Arts & Culture di Hari Batik Nasional

Yatin Suleha
Kamis 01 Oktober 2020 / 18:09
Jakarta: Pada tanggal 2 Oktober UNESCO menetapkan batik menjadi Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity atau Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. 

Dan dalam rangka merayakan Hari Batik Nasional, Google Arts & Culture bersama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Museum Tekstil Jakarta, Yayasan Batik Indonesia (YBI), dan didukung Kok Bisa, mengumumkan tambahan terbaru untuk halaman Batik di Google Arts & Culture. 

Halaman ini berisi lebih dari 1.100 tekstil Indonesia dalam resolusi ultra-tinggi yang ditangkap dengan Art Camera. 

Koleksinya meliputi 900 batik (45 pola batik baru), 200 tradisi tekstil Indonesia lainnya (seperti ikat, ulos, dan songket), 23 cerita digital yang imersif pilihan kurator ahli, materi edukasi yang terintegrasi dan dapat diunduh bagi para pengajar, pelajar, dan orang tua, serta sorotan UKM batik lokal. 

Selain itu, telah melatih lebih dari 50 pakar batik melalui lokakarya Gapura Digital untuk membantu mereka memajukan bisnis melalui media digital.

“Inisiatif ini merayakan batik, kain kebanggaan Indonesia, dengan membagikannya kepada lebih banyak audiens, memudahkan pembelajaran dan membantu industri lokal untuk berkembang. Dengan melakukannya, kami juga ingin menunjukkan rasa hormat kepada keterampilan seni, kreativitas, dan ketangguhan orang-orang Indonesia, khususnya para seniman yang melestarikan kerajinan ini," kata Amit Sood, Direktur Cultural Institute and Art Project di Google. 

"Terima kasih kepada partner-partner kami, Museum Tekstil Jakarta, dan Galeri Batik YBI, yang memilih Google Arts & Culture untuk membantu membagikan seni tradisional yang indah ini kepada dunia,” tambah Amit Sood.


(Batik telah ada sejak abab ke-4 atau ke-5. Dan batik telah menjadi pengetahuan tradisional sekaligus kerajinan selama berabad-abad. Foto: Unsplash.com)
 
Batik Indonesia diakui dunia sebagai kekayaan budaya sejak sebelas tahun lalu. Telah banyak kemajuan yang dicapai dalam upaya bersama antara pemerintah dan berbagai komunitas untuk meningkatkan kesadaran publik dan mempromosikan nilai non-material dalam batik. 

Namun, dunia tengah melambat karena pandemi yang sangat memengaruhi perekonomian, termasuk industri kreatif seperti industri busana. Pada bulan April, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyatakan terjadi pengurangan 2,1 juta pekerja di industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

“Industri batik sedang mengalami kesulitan karena pandemi. Yang paling terdampak adalah usaha kecil dan menengah (UKM), atau industri akar rumput. Sejauh ini, pengusaha batik telah melaporkan bahwa penjualan mereka menurun drastis hingga sekitar 30 persen," papar Dr. Tumbu Ramelan, Ketua Galeri Batik YBI Periode 2010-2019 dan aktivis Yayasan Batik Indonesia.

"Kami sangat menghargai inisiatif Google Arts and Culture di Indonesia. Cara ini tidak hanya dapat menunjukkan keindahan karya seni kebanggaan Nasional kita, tetapi juga memungkinkan orang-orang untuk belajar lebih lanjut tentang ribuan pola batik yang ada dan semoga membantu industrinya, yang meliputi 200.000 pembuat batik di seluruh nusantara,” tukasnya lagi.

“Batik telah menjadi pengetahuan tradisional, sekaligus kerajinan selama berabad-abad. Indonesia mulai dikenal dengan batik sejak abad ke-4 atau ke-5, dan ada yang bilang bahwa pola dan teknik pembuatan batik yang ada di Indonesia sama banyaknya dengan jumlah pulau di Nusantara," ucap Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Ia mengatakan batik bukan sekadar seni atau kerajinan, tetapi juga bagian dari identitas kita. Diperlukan upaya bersama untuk menjaga kekayaan Nasional ini, terutama selama masa adaptasi dengan kebiasaan baru sekarang. 

"Maka, saya ingin menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya atas dukungan berkelanjutan Google Arts and Culture untuk merayakan kekayaan budaya nasional ini selama bertahun-tahun, serta untuk membuat batik makin mudah dipelajari bagi lebih banyak orang Indonesia dan mendukung industrinya untuk berkembang,” pungkas Hilmar Farid.

(TIN)