FITNESS & HEALTH

Waspadai Penularan Demam Tifoid dari Kontaminasi Makan dengan Vaksinasian

Raka Lestari
Jumat 12 November 2021 / 19:10
Jakarta: Demam tifoid adalah infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella Typhi, melalui konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi. Penyakit akut ini memiliki gejala demam yang meningkat secara bertahap tiap hari serta lebih tinggi pada malam hari.

Mulai dari nyeri otot, sakit kepala, kelelahan dan lemas, serta munculnya ruam. Pada anak-anak, tifoid sering disertai diare, sementara orang dewasa cenderung mengalami konstipasi.

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Suzy Maria, Sp.PD-KAI, mengatakan, Food borne disease seperti demam tifoid dapat dicegah dengan cara menjaga sanitasi dan higienitas pribadi, dan menghindari kontak dengan penderita.

Kasus terbanyak demam tifoid terdapat di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di Indonesia, demam tifoid termasuk penyakit endemik sebab prevalensi demam tifoid yang cukup tinggi, yaitu mencapai 500 kasus per 100.000 penduduk per tahun.

“Mengingat Indonesia masih merupkan negara endemik tifoid, maka vaksinasi merupakan langkah optimal serta efektif untuk mencegah demam tifoid,” kata dr. Suzy dalam acara Kampanya #SantapAman Sanofi.  

Data WHO memperkirakan 11 – 20 juta orang sakit karena demam tifoid, dan mengakibatkan kematian sebanyak 128.000 - 161.000 orang setiap tahunnya di seluruh dunia.

"Cara kerja vaksinasi untuk penyakit tifoid yaitu meningkatkan sistem imun tubuh untuk melawan infeksi bakteri Salmonella Typhi. Vaksinasi dapat dilakukan mulai usia 2 tahun ke atas dan untuk mendapatkan perlindungan maksimal, seseorang direkomendasikan mendapat vaksinasi tifoid setiap tiga tahun sekali,” ujar dr. Suzy.

Hal ini penting, sebab risiko kontaminasi makanan atau minuman bisa terjadi pada tahap mempersiapkan bahan makanan, proses pengolahan, penyajian, pengemasan, penyimpanan, dan bahkan tahap pengantaran makanan. Baik yang disiapkan sendiri, dibeli, maupun melalui pemesanan.

Perubahan pola perilaku dalam pembelanjaan terutama makanan secara online yang meningkat sebanyak 97 persen juga patut diperhatikan. Pasalnya, tidak mudah untuk memastikan bahwa makanan atau minuman yang kita konsumsi terbebas dari kontaminasi kuman penyebab food borne disease seperti demam tifoid.
(FIR)