FITNESS & HEALTH

Apa Itu Varian Baru Covid-19 Botswana?

Mia Vale
Kamis 25 November 2021 / 19:35
Jakarta: Ternyata mutasi virus covid-19 masih berkembang. Bahkan para ilmuwan mengatakan varian covid baru yang membawa jumlah mutasi yang sangat tinggi, dapat mendorong gelombang penyakit lebih lanjut dengan menghindari pertahanan tubuh.

Ilmuwan memperingatkan varian covid baru dengan jumlah mutasi yang tinggi Varian B.1.1.529 pertama kali terlihat di Botswana dan enam kasus ditemukan di Afrika Selatan. 

Hanya 10 kasus di 3 negara yang telah dikonfirmasi oleh sekuensing genomik, tetapi varian tersebut telah memicu kekhawatiran serius di antara beberapa peneliti karena sejumlah mutasi dapat membantu virus menghindari kekebalan. 

Varian B.1.1.529 memiliki 32 mutasi pada spike protein. Peneliti menjelaskan mutasi ini dapat memengaruhi kemampuan virus dalam menginfeksi sel dan menyebar, serta mempersulit sel kekebalan untuk bertahan dari virus.

Dr Tom Peacock, seorang ahli virologi di Imperial College London, memposting rincian varian baru di situs berbagi genom, mencatat bahwa jumlah mutasi lonjakan yang sangat tinggi menunjukkan ini bisa menjadi perhatian nyata. 

"Sangat, sangat banyak yang harus dipantau karena profil lonjakan yang mengerikan ini," ujar Peacock, seperti yang dilnsir dari the Guardian. 

Sementara itu, Dr Meera Chand, direktur insiden covid-19 di Badan Keamanan Kesehatan Inggris, mengatakan bahwa dalam kemitraan dengan badan ilmiah di seluruh dunia, badan tersebut terus memantau status varian Sars-CoV-2 saat mereka muncul dan berkembang di seluruh dunia. 


varian covid
(Dilansir The Independent, ilmuwan mengkhawatirkan Covid-19 B.1.1529, atau varian Botswana, turunan dari B.1.1, dapat memicu penyebaran virus korona. Foto: Ilustrasi/Pexels.com) 


Kasus pertama dari varian dikumpulkan di Botswana pada 11 November lalu, dan yang paling awal di Afrika Selatan dicatat tiga hari kemudian. 

Kasus yang ditemukan di Hong Kong adalah seorang pria berusia 36 tahun yang memiliki tes PCR negatif sebelum terbang dari Hong Kong ke Afrika Selatan, tempat ia tinggal dari 22 Oktober hingga 11 November. Dia dites negatif saat kembali ke Hong Kong, tetapi dites positif pada 13 November saat dikarantina. 

Inggris tidak lagi memiliki daftar merah untuk memberlakukan pembatasan pada pelancong yang datang dari luar negeri. Orang yang tidak sepenuhnya divaksinasi harus dites negatif sebelum terbang dan mengatur dua tes PCR pada saat kedatangan. 

Beberapa ahli virologi di Afrika Selatan sudah khawatir, terutama mengingat peningkatan kasus baru-baru ini di Gauteng, daerah perkotaan yang berisi Pretoria dan Johannesburg, di mana kasus B.1.1.529 telah terdeteksi.

Ravi Gupta, seorang profesor mikrobiologi klinis di Universitas Cambridge, mengatakan penelitian di labnya menemukan bahwa dua mutasi pada B.1.1.529 meningkatkan infektivitas dan mengurangi pengenalan antibodi. 

“Satu poin penting yang belum diketahui, yakni tingkat infeksinya. Poin ini yang sangat memengaruhi penyebaran varian Delta. Sedangkan kemampuan menghindari sistem kekebalan tubuh hanya menggambarkan tentang apa yang mungkin terjadi," ujar Gupta.

Direktur Institut Genetika UCL Profesor Francois Balloux juga menduga, varian B.1.1.529 berkembang saat fase infeksi kronis pasien covid-19 dengan sistem imun lemah. Namun, masyarakat tidak perlu terlalu khawatir karena belum terdapat laporan ledakan kasus akibat varian tersebut. 

"Untuk saat ini harus dipantau dan dianalisis secara ketat, tetapi tidak ada alasan untuk terlalu khawatir, kecuali jika frekuensinya mulai meningkat dalam waktu dekat," pungkas Balloux. 
(TIN)