FITNESS & HEALTH

Penjelasan Ahli Mengenai Kontroversi Vaksin Nusantara

Raka Lestari
Jumat 16 April 2021 / 11:03
Jakarta: Vaksin Nusantara selama beberapa waktu belakangan ini menjadi perbincangan. Vaksin ini dikembangkan oleh mantan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Terawan Agus Putranto. Vaksin ini melakukan pendekatan yang berbeda dalam pengembangannya.

Bagaimana tanggapan ahli mengenai hal tersebut? Prof. Dr. Amin Soebandrio, Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, menjelaskan bahwa pada dasarnya vaksin Nusantara merupakan vaksin yng bersifat dendritik.

“Dendritik itu diambil dari tubuh orang yang bersangkutan,” ujar Prof. Amin dalam acara Webinar yang dilakukan oleh Swiss German University: Seputar Vaksinasi Covid-19: Kenali Jenis dan Efek Sampingnya.

Menurut Prof. Amin, dendritik yang diambil dari tubuh seseorang tersebut. Kemudian diproses istilahnya di-load dengan antigen kemudian disuntikkan kembali ke orang yang sama. Jadi harus disuntikkan kepada orang yang sama.” ujar Prof. Amien, yang juga Profesor Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.  

“Kalau disuntikkan ke orang lain, mungkin terjadi reaksi yang namanya GPHD atau graft versus host disease karena setiap sel manusia itu punya KTP sendiri. Begitu dia dimasukkan ke tubuh orang lain maka akan terjadi penolakan. Jadi sifatnya individual. Mungkin bisa membangkitkan respons imun tetapi tidak bisa dipakai untuk massal,” jelas Prof. Amin.

Meskipun demikian, pemberian vaksin dalam masa pandemi covid-19 seperti sekarang memang hal yang diperlukan. Prof. Amin mengatakan bahwa vaksin merupakan hal yang penting karena memiliki banyak manfaat. Di antaranya adalah melindungi orang yang divaksin, mengurangi mortalitas, mencegah kematian, serta mencegah manusia menjadi sumber penyebaran virus.

Vaksinasi pada akhirnya diharapkan dapat memotong penyebaran covid-19. Prof. Amin juga menekankan bahwa dengan ditemukannya berbagai varian baru dari covid-19 maka penerapan protokol kesehatan akan sangat relevan. Bukan hanya bagi mereka yang belum divaksinasi, tetappi juga bagi masyarakat yang sudah mendapatkan vaksinasi.
(FIR)