FITNESS & HEALTH

Mengapa Obat Antbiotik Perlu Dihabiskan?

Raka Lestari
Kamis 26 November 2020 / 10:50
Jakarta: Antibiotik adalah kelompok obat yang digunakan untuk mengatasi dan mencegah infeksi bakteri. Antibiotik bekerja dengan cara membunuh dan menghentikan perkembangbiakan bakteri di dalam tubuh. Dan memang, masih banyak masyarakat yang belum memahami dalam penggunaan obat antibiotik.

Menurut dr. Adityo Susilo,  Sp.PD-KPTI-FINASIM, dokter konsultan penyakit tropik dan infeksi RSUI, infeksi merupakan suatu kondisi masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh. Infeksi dapat menyebabkan demam, namun demam bukanlah pasti selalu karena infeksi. Saat demam, umumnya kita mengalami rasa tidak nyaman karena metabolisme tubuh sedang berjalan tidak  normal. Demam adalah tanda adanya peradangan atau terjadinya perubahan pada pengaturan termoregulasi.

"Antibiotik berfungsi untuk membunuh kuman serta bekerja secara spesifik dan bukan merupakan obat demam. Jika penggunaan antibiotik tidak sesuai indikasi dapat menyebabkan munculnya kuman yang kebal terhadap antibiotik," ujar dr. Adityo Susilo. Mekanisme kerja antibiotik adalah dengan menghancurkan dinding sel. Maka dari itu antibiotik diperuntukkan untuk membunuh bakteri bukan virus.

dr. Adityo juga menambahkan, pada penyakit akibat virus, secara logika tidak membutuhkan antibiotik. "Beberapa dokter ada yang menggunakan antivirus dalam mengobati penyakit akibat virus, namun tidak semua virus membutuhkan antivirus. Hal ini karena ada beberapa virus yang bersfat self-limiting, artinya penyakit tersebut dapat sembuh sendiri tanpa obat dengan adanya sistem imun tubuh yang kuat," terangnya.

Terdapat alasan mengapa antibiotik perlu dihabiskan. Hal ini karena membutuhkan beberapa waktu tertentu untuk memastikan bakteri benar-benar telah mati. Biasanya waktu tunggunya sekitar 5 - 7 hari atau dapat juga mengikuti petunjuk dokter karena beberapa antibiotik dapat berbeda. Jika tidak dihabiskan karena merasa kondisi tubuh sudah baik, dikhawatirkan bakteri tersebut belum benar-benar mati dan dapat menyebabkan infeksi kembali.

Menurut dr.  Ardiana  Kusumaningrum, Sp.MK, dokter spesialis mikrobiologi klinik RSUI, antiiotik hanya dapat diresepkan jika terdapat kecurigaan penyakit infeksi bakteri yang telah dilakukan pemeriksaan fisik, anamnesis atau pemeriksaan laboratorium (pemeriksaan penunjang) sebelumnya.

“Kesalahan penggunaan antibiotik dapat menyebabkan beberapa permasalahan, seperti kurang efektifnya antibiotik saat digunakan, dapat menimbulkan resistensi bakteri terhadap antibiotik, dan bakteri tersebut dapat menyebar ke orang lain dan lingkungan sekitar,” tutup dr. Ardiana.
(YDH)