FITNESS & HEALTH

Efek Covid-19 pada Paru Masih Teridentifikasi Bahkan Setelah 3 Bulan

Raka Lestari
Selasa 08 Desember 2020 / 12:43
Jakarta: Penelitian terbaru menemukan bahwa covid-19 dapat menyebabkan kelainan paru-paru yang masih dapat dideteksi lebih dari tiga bulan setelah pasien terinfeksi

Sebuah penelitian terhadap 10 pasien di Universitas Oxford menggunakan teknik pemindaian baru untuk mengidentifikasi kerusakan yang tidak ditemukan oleh pemindaian konvensional.

Teknik tersebut menggunakan gas yang disebut xenon selama pemeriksaan MRI untuk menciptakan gambar kerusakan paru-paru. Pakar paru-paru mengatakan tes yang dapat mendeteksi kerusakan jangka panjang akan membuat perbedaan besar bagi pasien covid-19.

Dikutip dari BBC, teknik yang dikenal dengan teknik xenon ini melihat pasien menghirup gas selama pemindaian magnetic resonance imaging (MRI). Prof. Fergus Gleeson, yang memimpin penelitian ini, mencoba teknik pemindaiannya pada 10 pasien berusia antara 19 dan 69 tahun.

Dan hasilnya menemukan bahwa sebanyak delapan orang dari mereka mengalami sesak napas dan kelelahan yang terus-menerus tiga bulan setelah terserang covid-19. 


covid-19 paru-paru
(Penelitian terbaru dari Universitas Oxford menemukan bahwa covid-19 dapat menyebabkan kelainan paru-paru yang masih dapat dideteksi lebih dari tiga bulan setelah pasien terinfeksi. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)


Padahal tidak ada dari mereka yang dirawat di perawatan intensif atau memerlukan ventilasi, dan pada pemindaian konvensional tidak menemukan masalah pada paru-paru mereka.

Hasilnya mendorong Prof. Gleeson untuk merencanakan uji coba hingga 100 orang untuk melihat apakah hal yang sama berlaku pada orang-orang yang tidak dirawat di rumah sakit dan tidak menderita gejala yang begitu serius. 

Dia berencana untuk bekerja dengan dokter untuk memindai orang yang positif terinfeksi covid-19 di berbagai kelompok usia.

Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah kerusakan paru-paru terjadi dan jika demikian apakah itu permanen, atau sembuh seiring waktu. “Saya sudah menduga adanya beberapa kerusakan paru, tetapi tidak dalam derajat yang saya lihat (dalam penelitian),” ujar Prof. Gleeson.

“Risiko penyakit parah dan kematian meningkat tajam selama usia 60-an. Tetapi jika percobaan menemukan bahwa kerusakan paru-paru terjadi pada kelompok usia yang lebih luas dan bahkan pada mereka yang tidak memerlukan masuk ke rumah sakit maka itu akan menjadi penemuan yang sangat penting,” tutup Prof. Gleeson.
(TIN)