FITNESS & HEALTH

Peran Vaksin HPV untuk Pencegahan Kanker Serviks

Raka Lestari
Kamis 14 Januari 2021 / 11:48
Jakarta: Kanker serviks bukan hanya membahayakan, tetapi juga bisa menyebabkan kematian. Untuk itu, upaya pencegahan sangatlah penting dilakukan. Salah satunya adalah dengan melakukan vaksin HPV.

“Saat ini program vaksinasi nasional memang sudah berjalan di beberapa kabupaten, kami juga berharap agar vaksinasi HPV ini bisa menjadi program vaksinasi nasional,” ujar Prof. Andrijono SpOG (K) FER, Ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI), dalam acara Forum Diskusi Denpasar 12 - Peta Jalan Perempuan Indonesia Bebas Kanker Serviks.

"WHO sudah mencanangkan eliminasi kanker serviks pada 2030. Dan beberapa negara pun sudah membuktikan adanya penurunan kanker serviks dengan adanya vaksinasi nasional,” ujar Prof. Andrijono.

Menurut Prof. Andrijono, program vaksinasi lebih efektif dalam mencegah kasus kanker serviks dibandingkan skrining. Menggunakan skrining, menurutnya, sulit sekali dan berdasarkan data hanya sekitar 5 persen. Sebab masyarakat kita sulit sekali untuk disiplin melakukan skrining setiap satu tahun sekali. Terbukti hanya 5 persen saja yang melakukannya,.

“Dengan vaksinasi, dua kali dosis suntikan itu bisa memberikan perlindungan sampai 15 tahun. Bahkan beberapa penelitian ada yang mengatakan sampai 16 tahun, bahkan masuk ke 17 tahun masih bisa memberikan perlindungan dan antibodinya masih tinggi. Jika memang benar bisa sampai 17 tahun, tentunya ini akan sangat menguntungkan,” ujar Prof. Andrijono.

Saat ini, untuk vaksinasi HPV sendiri memang dilakukan sebanyak 2 kali, tetapi beberapa negara sudah mulai mengembangkan untuk penggunaan single dose. Sekarang, sedang dianalisa single dose karena beberapa negara sudah membahas mengenai single dose.

"Jadi dengan single dose bisa lebih efisien lagi, dan juga dari segi dana bisa lebih kurang lagi,” jelas Prof. Andrijono.

Serviks merupakan kanker terbanyak nomor 2 pada perempuan setelah kanker payudara. Kalau di ginekologi memang masih nomor 1 dan sebagian besar terdeteksinya setelah stadium lajut.

"Rata-rata pasien kanker serviks meninggal setelah 2 tahun, sebesar 94 persen. Jadi, hanya 6 persen saja yang masih hidup setelah 2 tahun,” tutup Prof. Andrijono.
(FIR)