FITNESS & HEALTH

Stigma Negatif Menjadi Hambatan dalam Melakukan Eliminasi HIV/AIDS di Indonesia

Raka Lestari
Kamis 02 Desember 2021 / 16:02
Jakarta: Sampai saat ini permasalahan mengenai infeksi HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS) menjadi masalah kesehatan bagi masyarakat dunia maupun Indonesia. Berdasarkan data permodelan epidemi HIV dengan aplikasi Asian Epidemic Modeling dan Spectrum diperkirakan ada sekitar 543.100 ODHIV yang tersebar di Indonesia.

Kementerian Kesehatan berkomitmen untuk melakukan eliminasi AIDS pada 2030 mendatang. Komitmen tersebut tercermin dalam target 95-95-95 yakni 95% pertama ODHIV mengetahui status HIV, 95% kedua ODHIV mendapatkan terapi obat ARV, 95% ketiga semua ODHIV yang udah dapat obat ARV mengalami penurunan viral load.

“Usaha yang kita lakukan secara komprehensif ini berdasarkan status kesehatan orang-orang tersebut. Ini membuat kita tidak melakukan diskriminasi dan mengutamakan Hak Asasi Manusia agar semua ODHA mendapatkan akses yang baik di bidang kesehatan,” kata Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono pada Puncak Peringatan Hari AIDS Sedunia 2021 di Jakarta.

Kendati upaya eliminasi HIV AIDS terus diperkuat, namun capaian eliminasi HIV AIDS di Indonesia masih jauh dari target. Wamenkes menilai ada sejumlah penyebab yang menghambat upaya eliminasi HIV AIDS di Indonesia di antaranya jumlah fasyankes yang mampu melakukan skrining HIV belum merata, serta rendahnya kesadaran ODHIV melakukan pengobatan ARV.

“Saat ini kita belum mencapai 3 target eliminasi tersebut, khususnya target pengobatan dan target surpresi viral loadnya. Ini karena belum tersedianya fasyankes yang merata untuk melakukan tes dan pengobatan HIV AIDS, tingginya lost to follow up pada pasien HIV AIDS sehingga pengobatan belum optimal,” terangnya.

Dari target triple 95%, dilaporkan baru ada 75% ODHA yang mengetahui status HIV, dan baru 39,6% ODHIV yang mendapatkan obat ARV. Selain itu baru 32,4% ODHIV yang mendapatkan ARV sudah mengalami penurunan turun viral load.

Masih rendahnya target eliminasi ini, menurut wamenkes juga dipengaruhi stigma dari keluarga, petugas kesehatan maupun masyarakat luas terhadap ODHIV. Minimnya dukungan dari orang sekitar turut berdampak pada rendahnya tingkat kepatuhan ODHIV melakukan pengobatan ARV.

Padahal orang dengan HIV tentu memerlukan dukungan untuk tidak menghentikan pengobatan tanpa indikasi medis dan tetap semangat karena dengan ARV, tetap dapat berkarya dengan baik.

“Ini akan memberikan refleksi kita untuk melakukan upaya yang terbaik di masa yang akan datang, sehingga kita bisa melakukan optimalisasi dan sinergisme di antara kelembagaan dan kita bisa menempatkan pasien ODHA di tempat strategis dan sebaik-baiknya bedasarkan hak asasi yang mereka miliki,” pungkasnya.
(FIR)