FITNESS & HEALTH

Ini Dampak yang Kamu Alami jika tak Mengelola Hipertensi

Raka Lestari
Kamis 12 November 2020 / 18:55
Jakarta: Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko terhadap kerusakan organ penting, seperti otak, jantung, ginjal, mata, pembuluh darah besar (aorta) dan pembuluh darah tepi. Salah satunya yang harus diwaspadai adalah, terjadinya gagal jantung yang berujung pada kematian.

“Gagal jantung merupakan kondisi kronis dan progresif jangka panjang yang cenderung memburuk secara bertahap yang disebabkan oleh hipertensi," ujar dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP(K), spesialis jantung pembuluh darah RS Jantung Harapan Kita, dalam acara Virtual Media Briefing: Kelola Hipertensi, Cegah Gagal Jantung, dan Kematian, Kamis, 12 November 2020.

Hipertensi menyebabkan pembuluh darah menyempit dan mengakibatkan beban kerja jantung bertambah berat. Penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah yang disebabkan oleh hipertensi tersebut, akan menyebabkan dinding ruang pompa jantung menebal (left ventricular hypertrophy) dan dalam jangka panjang akan meningkatkan risiko gagal jantung.

"Untuk memompa darah melawan tekanan yang lebih tinggi di pembuluh, jantung harus bekerja lebih keras dan terjadi penyempitan arteri. Sehingga darah lebih sulit mengalir dengan lancar ke seluruh tubuh. Dengan demikian, hipertensi membuat kerja jantung menjadi berlebihan untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen dan nutrisi. Namun kondisi jantung menjadi lebih sulit bekerja, sehingga pada akhirnya jatuh ke kondisi gagal jantung,” terang dr. Ario.

“Seseorang dikatakan menderita hipertensi apabila memiliki tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg," sambungnya.

Hipertensi dapat dikelola dengan baik agar mencapai tekanan darah yang sesuai target, yaitu dengan mengatur pola hidup seperti membatasi konsumsi garam, perubahan pola makan, penurunan berat badan dan menjaga berat badan ideal, olahraga teratur, berhenti  merokok. Kepatuhan dalam menjalani pengobatan, pengukuran tekanan darah secara benar dan berkala.

"Pasien jantung harus mengelola hipertensinya dengan baik, agar tidak terjadi gagal jantung dan kematian. Sesuai dengan konsensus penatalaksanaan hipertensi, dokter akan  merekomendasikan pemakaian obat pengendali darah tinggi secara kombinasi sejak awal pengobatan untuk mencapai tekanan darah sesuai  target," ujar dr. Ario.

Beberapa jenis obat pengendali tekanan darah, yaitu golongan: Calcium Channel Blocker  (CCB),  Diuretik, Penyekat Beta (Beta Blocker), Penyekat Alpha (Alpha Blocker), Anti Converting Enzyme Inhibitor (ACE inhibitor), Angiotensinogen Receptor Blocker (ARB), Central Blocker, Aldosteron Antagonist dan lain-lain.
(FIR)