FITNESS & HEALTH

Bermasalah secara Mental Bukan Berarti Kamu Tidak Religius

Kumara Anggita
Minggu 15 November 2020 / 12:31
Jakarta: Tak semua orang di Indonesia sadar akan isu masalah mental. Hal ini membuat banyak dari kita jadi sering salah kaprah. Menururt Rena Masri, S.Psi, M.Psi, Psikolog Klinis, ada beberapa kesalahan pemahaman tentang isu yang umum terdengar antara lain:
 

Suka mediagnosis diri sendiri


Banyak artikel tentang gejala-gejala masalah mental seperti depresi, OCD, narsistik dan lain-lain. Informasi tersebut penting untuk diketahui, tapi perlu diingat bahwa kamu tidak bisa mendiagnosis diri sendiri dan mengambil tindakan penyembuhan sendiri. 

“Jadi memang ada beberapa salah kaprah. Yang pertama, diagnosis diri sendiri. Jadi kita cenderung menilai diri, ‘oh saya depresi, saya OCD'. Ciri-ciri tersebut sebenarnya penting untuk mengevaluasi diri, namun untuk diagnosa, kita harus ke profesional," kata Rena dalam Diskusi Media dengan Tema Pendekatan Kesehatan Holistik untuk Indonesia Sehat. 

"Carilah pemulihan yang tepat, apakah ke psikiater atau psikolog,” tambah Rena.
 

Orang yang bermasalah mentalnya adalah orang yang tak religius?


Ini adalah anggapan lain yang sering terjadi. Masalah ini tak menentukan seberapa religius kita. Agama memang bisa digunakan untuk menyamankan namun harus ada hal lain yang bisa menyembuhkan. 

“Kesehatan mental terjadi karena rendahnya kadar religiusitas. Nah itu sebenarnya, religiusitas ya betul memengaruhi perasaan nyaman, perasaan tenang tapi tentunya penyebabnya bukan hanya itu. Tapi ada tekanan tertentu dimana tekanan itu lebih berat dibandingkan kapasitas kita mengalami tekanan tersebut,” paparnya. 

“Jadi itu yang banyak yang sering muncul di masyarakat,” ungkapnya. 
 

Orang dengan masalah mental tidak produktif


Mungkin kamu menganggap orang sakit itu artinya sudah tak bisa melakukan apa-apa. Namun tidak selalu begitu, khsusunya untuk masalah mental. 

“Lalu anggapan orang yang memiliki gangguan mental tidak bisa produktif. Justru mereka memang harus ada upayanya untuk produktif, untuk bisa bekerja. Kita carikan pekerjaan yang sesuai dengan keluhannya sehingga tidak menambah tekanan. Jadi dengan tetap bekerja, justru orang semakin cepat pulih,” paparnya. 

“Dan satu lagi pemulihannya justru butuh konseling, terapi, dan lain-lain,” tambahnya.
(TIN)