FITNESS & HEALTH

Alasan Seseorang Bisa Terjerat Radikalisme

Kumara Anggita
Kamis 01 April 2021 / 15:31
Jakarta: Baku tembak antara polisi dengan terduga teroris terjadi di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, 31 Maret 2021. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa radikalisme bisa terjadi di mana saja, termasuk di markas kepolisian.

Dalam surat wasiat yang ditemukan di rumah si terduga teroris, ZA di Ciracas, Jakarta Timur, menyampaikan agar keluarganya berhenti bekerja menjadi dawis yang membantu kepentingan pemerintah thagut dan tidak mengikuti kegiatan pemilu.  

Lalu mengapa radikalisme terjadi, berikut penjelasan Psikolog Klinis Dewasa, Yulius Steven, M.Psi., Psikolog, dari Sahabat Kariib:
 

Apa itu radikalisme?


Radikalisme itu adalah paham atau kepercayaan terhadap sistem yang menentang otoritas. Menurut Yulius, ada beberapa hal yang membuat orang punya dan mengembangkan konsep paham radikalisme seperti:

Merasa mendapat perlakuan tidak adil

Orang-orang tersebut memiliki persepsi bahwa mereka diperlakukan tidak adil oleh masyarakat, pemerintah, politik, sosial budaya, agama, ekonomi, dan lain-lain. Sehingga timbul keinginan untuk membalas dendam terhadap otoritas tersebut.

"Karena mereka menganggap kebijakan yg ada sekarang ini tidak adil, mereka punya set of beliefs sendiri, kepercayaan sendiri bahwa kondisi ini seharusnya begini,” paparnya saat dihubungi Gaya Medcom.id, Kamis, 1 April 2021.


Identitas dan sense of belonging

Bertemu dan bergabung dengan kelompok dengan pemikiran yang sama akan membuat seseorang semakin yakin dengan apa yang dijalani. Seseorang akan merasa mendapat dukungan.

“Orang-orang dengan pemikiran yang sama nih dari nomor 1 ini akan cenderung bergabung dalam suatu grup atau kelompok radikal yang sama. Tujuannya adalah karena berdasarkan kesamaan pandangan, visi, misi dan tujuan,” ungkap Yulius.

Ketika mereka punya paham itu seorang diri mereka takkan bisa berbuat apa-apa untuk melawan otoritas yg lebih besar. Makanya mereka punya kebutuhan untuk melakukan action, salah satunya dengan bergabung di kelompok dengan orang-orang yang punya pemikiran serupa.

"Di kelompok tersebut mereka juga merasa lebih diterima dan merasa nemiliki satu sama lain, sehingga terjadilah kelompok radikal,” pungkasnya.
(FIR)