FITNESS & HEALTH

Jika Sudah Terinfeksi Covid-19, Apakah Harus Tetap Melakukan Vaksinasi?

Raka Lestari
Jumat 08 Januari 2021 / 08:00
Jakarta: Vaksin covid-19 menjadi salah satu hal yang ditunggu-tunggu semenjak adanya kasus covid-19 pada akhir tahun 2019 lalu di Tiongkok. Dan memang, saat ini ada berbagai macam merek vaksin yang sudah melalui berbagai uji. 

Namun, bagi mereka yang sudah pernah terinfeksi covid-19 apakah tetap harus mendapatkan vaksin? Menurut Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) di Amerika Serikat, seharusnya meskipun sudah pernah terinfeksi covid-19 bukan berarti seseorang tersebut tidak perlu mendapatkan vaksin.

Pada 12 Desember lalu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga mencatat berdasarkan data dari uji klinis menunjukkan bahwa vaksinasi "aman dan mungkin manjur" pada orang yang sebelumnya telah terinfeksi covid-19, entah itu mereka menunjukkan gejala atau tidak.

Bukankah seseorang yang pernah terinfeksi covid-19 sudah memiliki antibodi

Ya, kadang-kadang. “Masalahnya adalah tingkat kekebalan (sebagaimana ditentukan oleh tingkat antibodi) sangat bervariasi antara orang yang pernah terinfeksi,” kata Stephen Russell, MD, PhD, CEO dan salah satu pendiri Imanis Life Sciences kepada Health.

"Tingkat antibodi penetral yang lebih tinggi memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap infeksi baru," jelas Dr Russell. 

"Gejala infeksi yang lebih parah sering kali menyebabkan tingkat antibodi penetral yang lebih tinggi, sementara gejala yang lebih ringan dapat menyebabkan produksi antibodi penetralisir yang lebih rendah atau tidak, bahkan tidak terukur."

Dengan kata lain, jika seseorang mengalami infeksi covid-19 yang sangat ringan, sistem kekebalan tubuhnya mungkin tidak cukup membentuk antibodi. Dan hal yang sama juga berlaku bagi mereka yang mengalami bentuk penyakit yang lebih parah.

Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Immunology pada Mei 2020 menemukan bahwa infeksi covid-19 begitu kuat pada pasien yang dirawat di rumah sakit sehingga respons kekebalan mereka menjadi habis, dan memori kekebalan terhadap virus tidak terbentuk secara memadai.

Masih diperlukan lebih banyak bukti untuk menentukan risiko infeksi ulang pada orang yang sebelumnya terinfeksi, serta berapa lama kekebalan pelindung mereka bertahan. 

“Satu skenario yang mungkin terjadi adalah bahwa vaksin penguat akan diberikan kepada orang yang sebelumnya terinfeksi enam bulan setelah episode awal covid-19. Tetapi pertama-tama kami memerlukan lebih banyak informasi tentang kecepatan penurunan kekebalan setelah infeksi alami,” tutup Dr Russell.
(TIN)