FITNESS & HEALTH

Peneliti Jelaskan Kenapa Masker Bisa Hambat Virus Keluar

Sandra Odilifia
Sabtu 28 November 2020 / 15:05
Jakarta: Pada penelitian yang diterbitkan 3 April dalam jurnal Nature Medicine, menggunakan metode yang canggih untuk mengumpulkan partikel virus yang dikeluarkan orang sakit. Sebanyak 426 sukarelawan diminta untuk bernapas selama 30 menit ke dalam alat mirip kerucut yang bisa menangkap semua yang dihembuskan.

Dari jumlah tersebut, 43 pasien menderita influenza, 54 pasien memiliki rhinovirus dan 17 pasien memiliki coronavirus musiman (jenis yang menyebabkan pilek, bukan jenis yang menyebabkan covid-19). 
 
Metode ini memungkinkan para peneliti untuk menghitung berapa banyak virus yang ditemukan dalam partikel tetesan, yang berdiameter lebih dari 0,0002 inci (5 mikron). Hal itu dibandingkan dengan partikel aerosol, yaitu 5 mikron atau lebih kecil. 

Para peserta pun diacak untuk memakai masker bedah maupun tidak memakai masker selama penelitian. Pada temuan kunci pertama, para peneliti mendeteksi virus dalam partikel aerosol
kecil dalam semua kasus, yakni influenza, rhinovirus, dan coronavirus. 
 
"Dalam kasus influenza, mereka membiakkan partikel yang ditangkap dan menemukan bahwa mereka menular. Itu penting," kata penulis studi Ben Cowling, kepala Divisi Epidemiologi dan Biostatistik di The Hong Kong University.
 
Sebab, ada perdebatan jangka panjang di antara para profesional kesehatan tentang apakah influenza dapat menyebar melalui aerosol. Studi ini menunjukkan bahwa itu mungkin, dan pilek juga bisa menjadi kemungkinannya.
 
"Untuk coronavirus musiman dan rhinovirus, kami tidak berusaha membiakkan virus dalam aerosol, tetapi tidak ada alasan untuk percaya bahwa virus itu tidak akan menular," tutur Cowling dikutip dari Live Science.
 
Sementara masker bedah mengurangi jumlah virus yang dilepaskan dari orang sakit dalam bentuk tetesan, tetapi bukan aerosol untuk influenza. Ia memaparkan bahwa masker mengurangi coronavirus di kedua tetesan dan aerosol, dan tidak mengurangi rhinovirus. 
 
Terkait coronavirus musiman, para peneliti menemukan virus dalam tetesan di 3 dari 10 sampel dari peserta yang tidak memakai masker dan aerosol dalam 4 dari 10 sampel yang diambil tanpa masker.

Dalam sampel yang diambil dengan masker, tidak ada virus yang terdeteksi di tetesan atau aerosol. Perbedaan antara virus bisa ada hubungannya dengan di mana di dalam saluran pernapasan ini bisa menular atau membuat rumah bagi si virus itu. 
 
Cowling, yang juga co-direktur Pusat Kolaborasi WHO untuk Epidemiologi dan Pengendalian Penyakit Infeksi, menyatakan contohnya virus yang bereproduksi jauh di dalam paru-paru mungkin perlu melakukan perjalanan dalam partikel yang lebih kecil untuk membuatnya terpapar jauh ke dunia. Sementara yang bereproduksi sebagian besar di hidung dan tenggorokan mungkin lebih mudah disebarkan dalam tetesan yang lebih besar.
 
Hasil dari influenza dan coronavirus musiman menunjukkan bahwa masker bedah dapat membantu menjaga orang dengan covid-19 dari penyebaran virus. SARS-CoV-2 mungkin berperilaku serupa dengan virus yang dipelajari tim Cowling.

Faktanya, pernyataan orang dapat menyebarkan virus sebelum mereka mengalami gejala merupakan argumen untuk merekomendasikan masker bagi semua orang.
 
Namun, para ahli masih ragu tentang potensi kegunaan masker non-N95. "Bagi saya, tidak berbahaya memakai masker ini, tetapi tidak terlihat dari penelitian ini tentang banyaknya manfaat bagi pengguna," tuturnya. 
 
Sebab, katanya, ukuran sampel untuk coronavirus musiman adalah kecil, dan ada sejumlah besar variasi yang tidak berhubungan dengan masker dalam berapa banyak virus yang disemburkan. Terutama, mengingat bahwa mayoritas sampel tanpa masker tidak memiliki coronavirus yang terdeteksi.
 
"Rekomendasi bahwa setiap orang memakai topeng adalah karena segala rintangan lebih baik ditangani daripada tidak sama sekali," papar May Chu, profesor klinis epidemiologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Colorado di Kampus Medis Anschutz yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.
 
"Banyak penelitian yang dilakukan yang mengatakan bahwa masker tidak akan dapat menghentikan penyebaran infeksi, tetapi hanya akan memiliki efek kecil pada penularan," tambah Cowling.

Dan jangan lupa pemerintah melalui #satgascovid19 tak bosan-bosannya mengampanyekan #ingatpesanibu. Jangan lupa selalu menerapkan 3M, yakni #pakaimasker, #jagajarak dan #jagajarakhindarikerumunan, serta #cucitangandan #cucitanganpakaisabun. 
 
(YDH)