FITNESS & HEALTH

Apakah Vaksin Covid-19 Berbasis mRNA Aman untuk Kanker Paru?

Raka Lestari
Jumat 27 Agustus 2021 / 17:13
Jakarta: Beberapa waktu ini di media sosial tersebar kabar bahwa vaksin covid-19 yang berbasis mRNA dianggap lebih aman. Tapi untuk pasien yang mengonsumsi obat imunosuprsena, salah satunya adalah pasien kanker paru. Namun, apakah memang hal tersebut benar adanya?

"Kita ini dari ke hari di media sosial selalu berubah-ubah. Sebagai contoh, sekarang beredar kabar bahwa vaksin Moderna untuk autoimun. Padahal itu salah," ujar jelas Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, MPd.Ked, FINASIM, FACP, Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) dalam Virtual Media Briefing Hari Kanker Paru Sedunia 2021, pada Kamis, 26 Agustus 2021.

Faktanya, menurut Prof. Aru, semua vaksin itu sebenarnya bisa digunakan untuk seseorang yang memiliki kondisi autoimun. Semua tergantung dari status penyakitnya, apakah terkontrol atau tidak.

"Dan juga bergantung pada kajian dari dokter masing-masing. Jadi tidak benar vaksin Moderna itu aman untuk pasien autoimun," jelas Prof. Aru.

Sedangkan untuk pasien kanker, semua tergantung dari kekebalan tubuh masing-masing. Mereka yang sedang menjalani kemoterapi tak masalah divaksin, kecuali mengalami penurunan kekebalan tubuh akibat kemoterapi tersebut.

"Atau jika memang leukositnya turun, sedang mengonsumsi obat anti kanker yang menurunkan kekebalan tubuh. Itu semua dokter onkologinya yang menentukan," jelas Prof. Aru.

Prof. Aru juga menegaskan tidak ada kontraindikasi antara vaksin dengan kondisi pasien kanker. Ia selalu bilang sama pasien, lebih baik menyiapkan efek samping dari vaksin yang sudah terbukti bisa diatasi.

"Kalau demam misalnya, ya bisa mengonsumsi obat penurun demam. Dibandingkan kena covid-19. Itu yang harus dipertimbangkan," jelasnya.

Jadi memang kalau berbicara tentang obat atau apapun yang dipergunakan untuk manusia, dasarnya adalah uji klinis. Namun yang menjadi masalah, penelitian-penelitian yang menggunakan vaksin ini tidak dilakukan pada kasus-kasus spesisik.

"Misalnya pada autoimun, kanker, ataupun kanker paru itu sendiri," tambah Dr. dr. Ikhwan Rinaldi, Sp.PD-KHOM, M.Epid,FINASIM, FACP dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi onkologi medik RSCM.

Menurut dr. Ikhwan, mengenai pemberian vaksin untuk pasien memang belum bisa dipastikan. Akan tetapi secara umum, pemberian vaksin terhadap pasien kanker paru tergantung dari beratnya penyakit.

"Kemudian juga apakah terkontrol atau tidak, serta kemungkinan efek samping yang bisa diduga kalau vaksinnya diberikan," jelasnya.

"Selebihnya, pasien juga menjadi penentu. Pasiennya mau atau tidak divaksin. Dokter biasanya akan memberikan rambu-rambu apa saja yang kira-kira dianggap aman. Sampai saat ini belum ada yang pasti aman karena risetnya tidak ada," tutup dr. Ikhwan.

Hi Sobat Medcom, terima kasih sudah menjadikan Medcom.id sebagai referensi terbaikmu. Kami ingin lebih mengenali kebutuhanmu. Bantu kami mengisi angket ini yuk https://tinyurl.com/MedcomSurvey2021 dan dapatkan saldo Go-Pay/OVO @Rp 50 ribu untuk 20 pemberi masukan paling berkedan. Salam hangat.
(FIR)