FITNESS & HEALTH

Apakah Anak dengan Thalasemia Aktivitasnya akan Terganggu?

Kumara Anggita
Jumat 11 Juni 2021 / 06:35
Jakarta: Thalasemia merupakan kelainan pada darah yang diturunkan karena tidak terbentuknya atau berkurangnya salah satu rantai globin, baik itu alfa ataupun beta yang merupakan komponen dari hemoglobin.

Sementara hemoglobin adalah bagian dari sel darah merah. Jika ada gangguan pada hemoglobin, maka sel darah merah dalam tubuh tidak berfungsi dengan baik dan masa hidupnya juga lebih pendek.

Anak yang memiliki thalasemia perlu diobati dengan transfusi darah. Menurut lembar fakta Kalbe, transfusi darah mulai diberikan pada pasien thalasemia bila pemeriksaan laboratorium membuktikan bahwa, pasien menderita thalasemia mayor.

Selain itu juga jika kadar hemoglobin kurang dari 7 g/dL setelah 2 kali pemeriksaan dengan selang waktu lebih dari 2 minggu tanpa adanya tanda infeksi, atau kadar hemoglobin lebih dari 7 g/dL dan dijumpai gagal tumbuh dan/atau deformitas (kelainan tulang). Transfusi umumnya diberikan dengan interval setiap 3-4 minggu.

Transfusi darah secara rutin dapat membantu mencegah komplikasi dari thalasemia seperti tulang yang rapuh, pembesaran organ limpa, perlambatan pertumbuhan, dan gangguan jantung.
 

Pengaruh transfusi darah dalam aktivitas anak


Namun, Menurut dr. Bambang Sudarmanto, Sp.A(K), MARS, Dokter spesialis Anak Konsultan Hematologi RS. Kariadi Semarang, bila anak dalam keadaan sehat, anak bisa tetap melakukan aktivitas seperti anak lainnya.

“Ketika melakukan aktivitas, aktivitas sama dengan mereka yang tidak menderita thalasemia. Hanya mungkin karena dibutuhkan transfusi terus-menerus dalam dua minggu, tiga, empat itu mungkin anak sekolah absennya lebih banyak karena harus datang ke rumah sakit rutin. Saat ini pengobatan sudah bisa dilakukan rawat jalan,” ungkap dr. Bambang dalam Virtual Media Briefing dengan Tema Hidup Berdamai dengan thalasemia oleh Kalbe.

Mungkin, pengobatan akan membuat pertumbuhan anak terhambat. Namun dr. Bambang menegaskan bahwa ini tidak akan menghambat cita-citanya. Anak tetap bisa menjadi apa yang ia mau sambil melakukan pengobatan.

“Kulitas hidup terganggu? ketika diberikan transfusi darah secara reguler, itu tumbuh kembangnya mungkin akan terganggu tapi aktivitas untuk mencapai prestasi tidak terpengaruh,” tutupnya.
(FIR)