FITNESS & HEALTH

Kenapa Otak Butuh Tidur?

Sunnaholomi Halakrispen
Selasa 06 Oktober 2020 / 19:53
Jakarta: Kita perlu tidur. Kata-kata itu mungkin seringkali kamu dengar. Tetapi, hal itu berpengaruh kepada otak kita. Lalu, kenapa otak butuh tidur?

Sebuah studi yang diterbitkan minggu lalu di Current Biology menyelidiki jenis unik sel berbentuk bintang yang telah lama diabaikan, yang dapat mengungkap hal tersebut. Yakni astrosit.

Dikutip dari Popsci, astrosit adalah sel glial, yang secara harfiah berarti perekat, yang memberikan dukungan fisik ke neuron di otak. Hingga saat ini, dianggap sebagai fungsi utamanya.

Pada studi di Washington State University ini, para peneliti menggunakan mikroskop kecil untuk melacak proses yang disebut pensinyalan kalsium di otak tikus. Di otak tikus dan manusia, astrosit mengirim partikel kalsium satu sama lain untuk berkomunikasi dan memberikan dukungan yang diperlukan untuk aktivitas neuron.

Pada tikus tersebut, tim peneliti menemukan bahwa pola pensinyalan kalsium antara astrosit berubah, tergantung pada apakah tikus tersebut terjaga atau tertidur. Temuan itu sendiri tidak terlalu menarik, karena itu berarti bahwa astrosit hanya mencerminkan perilaku neuron yang mereka dukung.

Namun, neuron menunjukkan pola aktivitas yang lebih kuat selama terjaga, dengan sengaja membantu kita bereaksi dan berpikir. Tetapi studi tersebut menemukan bahwa astrosit berperilaku sebaliknya, pola sinyal kalsium menjadi lebih jelas selama tidur non-REM. Itu, kata tim, adalah penemuan yang aneh.

"Karena astrosit tidak hanya mencerminkan aktivitas saraf, hal itu menunjukkan kepada kita bahwa mungkin astrosit memainkan peran yang lebih langsung dalam mengatur tidur kita daripada yang kita duga sebelumnya," ujar Dr. Ashley Ingiosi, Ahli Saraf di Washington State University sekaligus penulis utama studi ini.

Ilmuwan telah lama mempelajari aktivitas neuron di otak melalui electroencephalography (EEG), yang dapat mengukur sinyal listrik yang dilewatkan antar neuron di otak. Astrosit, bagaimanapun, tidak mampu mengirimkan sinyal listrik, jadi metode ini tidak berhasil untuk mereka.

Hingga saat ini, para peneliti belum memiliki alat untuk melacak sinyal kalsium di otak. Untuk studi ini, tim menggunakan alat hiper-sensitif yang disebut mikroskop dua foton yang memungkinkan mereka melihat pergerakan kalsium di otak sebagai cahaya yang berkelap-kelip dengan detail super tinggi.

Langkah maju dalam teknologi ini mungkin juga merupakan langkah untuk memahami mengapa kita perlu tidur sejak awal, sebuah pertanyaan yang telah coba dijawab oleh para ilmuwan selama ribuan tahun. Sebagian besar studi tidur berfokus pada aktivitas neuron karena neuron memberi daya pada sebagian besar aktivitas otak dan karena, melalui EEG, aktivitas tersebut dapat diukur. Tapi mungkin kita telah melihat sel yang salah.

"Dengan studi ini, kami sekarang memiliki jenis sel yang sama sekali berbeda, bukan neuron, yang juga berubah secara dinamis di seluruh kondisi tidur-bangun dan berperan dalam pengaturan tidur kita," tutur Ingiosi.

Temuan baru ini dapat memberikan titik awal bagi peneliti tidur untuk mengatasi kebiasaan tidur yang tidak teratur, yang dapat disebabkan oleh sejumlah kondisi. Termasuk adanha gangguan spektrum autisme, PTSD, dan penyakit alzheimer.

Sementara itu, penulis studi belum mengetahui apakah mungkin untuk menciptakan lingkungan kalsium yang ideal di otak untuk tidur. Atau untuk mengontrol berapa banyak waktu tidur yang dibutuhkan orang. Tetapi ini adalah pertanyaan yang menarik perhatian para peneliti tentang tidur.

Terlepas dari semua pertanyaan yang belum terjawab, kemungkinan bahwa astrosit berperan dalam pengaturan tidur adalah penemuan menarik yang menyiapkan panggung untuk era baru penelitian tidur.

"Jadi mungkin kami mencari di tempat yang salah untuk sementara waktu. Mungkin kita punya, secara potensial, jalan baru ke depan menuju mengapa kita tidur di tempat pertama," pungkas Ingiosi.
(FIR)