FITNESS & HEALTH

Menilik Bahaya Penggunaan Wadah Plastik yang Mengandung BPA

A. Firdaus
Selasa 15 Desember 2020 / 22:42
Jakarta: Bisphenol A (BPA) adalah bahan kimia yang ditambahkan ke banyak produk komersial, termasuk wadah makanan dan produk kebersihan. BPA pertama kali ditemukan pada tahun 1890-an.

Salah satu cara mengurangi risiko terpapar BPA yaitu dengan tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang termigrasi molekul BPA. Artinya tidak makan atau minum, dari wadah plastik yang mengandung unsur kimia BPA.

Simpelnya, dengan cara menghindari minum dari minuman air galon isi ulang, yang sudah jelas mengandung unsur BPA. Hal itu diutarakan saat webinar yang diselenggarakan oleh Cerdik Sehat bekerja sama dengan Rumah Sakit Mayapada dan Parentalk dalam tema: Mengenal BPA dari Rumah.

Menurut dr. Daulika Yusna, Sp.A dari Rumah Sakit Mayapada, kemasan makanan dan minuman atau galon dengan kandungan yang tidak tepat, seperti mengandung BPA, sangat berbahaya jika isinya dikonsumsi setiap hari dalam jangka waktu lama.

"Para panelis sepakat bahwa untuk mengurangi resiko BPA adalah dengan tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang termigrasi molekul BPA," ujar dr. Daulika.

"Sebagai orang tua apakah kita sudah berkomitmen memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi anak-anak kita? " lanjut Nucha Bachri, Co-Founder Parentalk.id.

Hal yang harus orang tua lakukan di rumah, menurut Nucha adalah berani menyingkirkan wadah makanan atau minuman yang mengandung BPA. Jangan membeli karena tertarik pada bentuk kemasannya melainkan mengutamakan faktor kesehatannya. Diperlukan sikap yang bijaksana untuk meneliti lebih dulu kode kemasan dan bahan kemasan makanan dan minuman yang kita sajikan.

Sementara menurut dr. Darrel Fernando SpOG dokter spesialis kandungan, yang juga dari Rumah Sakit Mayapada, Kuningan, mengatakan kita harus teliti melihat kode plastik pada setiap produk yang kita gunakan.

"Misalnya kode plastik no 7 (jenis plastik polykarbonat) yang perlu kita perhatikan dalam kemasan makanan kita karena kode plastik no 7 biasanya mengandung BPA. Meskipun bukan di level yang berbahaya tapi kalau bisa diihindari agar tidak terjadi akumulasi jangka panjang," terang dr. Darrell.


dr. Daulika Yusna, Sp.A dari Rumah Sakit Mayapada, Kuningan. (Foto: Ist)

Hal senada diungkapkan oleh Nucha Bachri. Ia mengingatkan jangan tergiur tampilan.

"Beli barang jangan cuma karena lucu dan harga aja. Tapi harus diperhatikan juga keamanannya. Perhatikan baik-baik dan pelajari dan cari tahu dulu bahan yang mau kita beli seperti apa. Jangan sampai mengandung BPA yang dapat mempengaruhi kesehatan anak balita," ungkap Nucha.

Pada intinya, diperlukan edukasi kepada masyarakat, bahwa minuman yang ditempatkan di dalam wadah mengandung BPA maka makanan tersebut telah terpapar BPA. Bahaya BPA memang dapat dirasakan setalah kurun waktu yang lama.

"Jadi bahaya BPA tidak serta merta berefek. Contohnya pada gangguan hormon pada anak atau balita yang sedang tumbuh. Gangguan lainnya dapat memicu kanker jika BPA dikonsumsi terus menerus," papar dr Daulika Husna Sp.A.

Bagaimana zat kimia BPA ini masuk ke dalam tubuh?

Dalam prosesnya, molekul BPA atau monomer di polimerisasi menjadi plastik karbonat (PC). Saat proses polimerisasi itulah tidak berjalan sempurna, sehingga menimbulkan molekul-molekul BPA bebas.

Molekul BPA bebas ini kemudian bermigrasi dari kemasan atau utilitas ke makanan atau minuman yang terkonsumsi. Masuknya BPA ke dalam tubuh melalui dua cara yaitu dietary exposure dan non dietary exposure.

"Masalah BPA adalah migrasi. Migrasi adalah berpindahnya zat kimia BPA yang ada pada kemasan makanan ke dalam produk pangan. Kita akan terpapar jika kita mengonsumsi produk pangan yang terkontaminasi BPA. Untuk itu, hindari risiko dengan mengurangi paparan," tutur Dr Azis.

Sebagai contoh proses migrasi BPA dalam kemasan galon yang kemudian larut kedalam air did alam galon isi ulang. Prosesnya yaitu, saat pengisian air ke dalam galon isi ulang di pabrik atau depo pengisian, mungkin sudah sesuai standar keamanan pangan yang telah ditetapkan, tetapi pada saat proses distribusi hingga sampai ke tangan konsumen, tidak ada yang bisa menjamin air tidak terpapar BPA.

Walaupun jika dicek masih dalam batas toleransi, tapi jika terakumulasi bertahun tahun maka tentu saja akan mengakibatkan hal yang serius bagi kesehatan anak balita dan ibu hamil. Oleh karena itu dapat kita temui jurnal kesehataan dan kebijakan negara maju di dunia telah melarang dengan tegas penggunaan BPA dalam kemasan makanan dan minuman.

Cara yang pertama migrasi BPA ke makanan yaitu dari bahan pengemas yang kontak dengan minuman atau makanan. Cara yang kedua antara lain debu, thermal paper, kosmetika dan lain lain.
(FIR)