FITNESS & HEALTH

Pasien PPOK Disarankan untuk Berolahraga

Raka Lestari
Kamis 19 November 2020 / 11:04
Jakarta: Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) adalah penyakiit kronis saluran napas yang ditandai dengan hambatan aliran udara, khususnya udara ekspirasi. Penyakit ini bersifat progresif lambat dimana semakin lama akan semakin memburuk. 

"PPOK disebabkan oleh merokok, polusi udara, baik di dalam maupun di luar ruangan. Awal terjadinya penyakit ini biasanya pada usia pertengahan dan tidak hilang dengan pengobatan," ujar dr. Budhi Antariksa, SpP (K), Ph.D, dokter spesialis paru, konsultan asma dan PPOK di RSUP Persahabatan, dalam rangka Hari PPOK Sedunia 2020 yang diadakan secara virtual pada Rabu, 18 November 2020. 

Menurut dr. Budhi, gejala-gejala PPOK yaitu mengalami sesak napas yang bertambah ketika beraktivitas. Dan bertambah dengan meningkatnya usia disertai batuk berdahak atau pernah mengalami sesak napas disertai batuk berdahak. 

Berdasarkan data prevalensi RISKESDAS 2013, diperkirakan ada lebih dari 10 juta orang yang hidup dengan PPOK di Indonesia. Mayoritas dengan riwayat merokok atau hidup di area dengan polusi udara. PPOK biasanya diderita lebih banyak pada pria dibandingkan pada wanita.  

"Olahraga yang sesuai dengan pasien PPOK adalah olahraga yang dapat meningkatkan otot-otot atas atau dada. Dan biasanya kita anjurkan kalau bisa, olahraganya itu berenang yang paling bagus untuk otot-otot dada. Kalau tidak bisa, lakukan olahraga yang sifatnya menggerakkan otot-otot dada seperti menarik napas panjang," saran dr. Budhi. 

dr. Budhi menyarankan, ketika pasien PPOK menarik napas panjang maka sebaiknya tangannya juga ikut dilebarkan. "Ada juga senam yang bisa dilakukan oleh pasien PPOK seperti melakukan senam untuk asma. Dengan melakukan senam asma, maka otot-otot pernapasan akan lebih kuat sehingga bisa menolong paru-paru untuk mengambil oksigen lebih kuat lagi," katanya. 

Selain olahraga, asupan nutrisi juga sangat penting untuk pasien PPOK. "Nutrisi harus diberikan secara baik, biasanya dokteer gizi akan dengan tepat memberikan pengarahan," ujar dr. Budhi. 

"Yang jelas kalau pada pasien PPOK, antara karbohidrat, lemak dan protein usahakan lebih sedkit karbohidrat dan perbanyak lemak dan protein. Porsinya harus sama antara asupan nutrisi dan aktivitas. Kalau tidak aktif, maka otot-otot akan mengecil karena tidak terpakai," katanya.   

Jika otot tidak dipakai untuk melakukan aktivitas, menurut dr. Budhi maka akan menyebabkan ketergantungan terhadap oksigen. "Biasanya pasien takut merasa sesak saat melakukan aktivitas, sehingga tidak mau gerak. Padahal kalau tidak banyak gerak, ketergantungan terhadap oksigen akan semakin besar dan akhirnya hanya duduk saja di kursi roda," tutup dr. Budhi.
(YDH)