FITNESS & HEALTH

Sinusitis Perlukah di Operasi? Begini Penjelasannya

Rendy Renuki H
Selasa 08 Maret 2022 / 09:07
Jakarta: Sinusitis atau dalam nama ilmiahnya Rhinosinusitis merupakan peradangan pada bagian hidung dan sinus paranasal. Penyakit ini ditandai dengan gejala seperti hidung tersumbat, lendir kental pada hidung, nyeri wajah dan kepala. 

Rhinosinusitis pada prinsipnya diakibatkan dari penyakit yang sebelumnya sudah ada, misalnya pada penyakit radang hidung (rhinitis), disebabkan oleh alergi atau perubahan suhu, paparan asap, kelainan anatomi hidung yaitu adanya tulang keras atau tulang rawan yang bengkok yang menyumbat saluran atau muara sinus. 

"Sinusitis dapat juga disebabkan oleh sakit gigi yang dinamakan sinusitis dentogen," kata dokter Fransiskus H. Poluan. Sp.THT l, dari Siloam Hospital Mampang saat Live Instagram, Senin 7 Maret 2022.

Dia mengatakan, gejala umum yang terjadi yaitu ditemukan adanya hidung tersumbat, kemudian adanya lendir pada lubang hidung. Lendir yang kental dengan warna hijau, kuning, ataupun berupa kecoklatan. Bisa juga disertai dengan nyeri pada bagian wajah seperti diatas pipi dan area sekitar tengah antara mata. 

"Nyeri ini disebabkan oleh adanya peningkatan tekanan dari cairan di dalam sinusnya ataupun akibat adanya penebalan pada lapisan hidung," ungkap dokter Fransiskus. 

Di kalangan usia anak, umum diiringi dengan batuk karena kesulitan dalam upaya mengeluarkan lendirnya.

Penanganan Tidak Selalu dengan Tindakan Operasi

Pada pemeriksaan dilakukan CT-Scan sinus paranasal agar dapat diketahui apakah ditemukan penumpukan cairan atau penebalan mukosa (lapisan selaput lendir yang berfungsi untuk membuat udara setelah dihirup). 

Dapat juga dilakukan pemeriksaan dengan Endoskopi agar diketahui apakah ditemukan adanya pembengkakan atau  penyempitan pada saluran muara sinus 

Setiap penyakit yang tidak ditangani dengan baik akan berakibat komplikasi, pada kasus rinosinusitis ini bisa berdampak pada mata menjadi bengkak sampai dapat mempengaruhi penglihatan. Penyakit rhinosinusitis ini tidak selalu harus ditangani dengan tindakan operasi sebagai solusinya. 

"Ada tindakan yang bisa dilakukan untuk langkah non operasi seperti misalnya memperbaiki gaya hidup, kemudian menghindari paparan debu yang menyebabkan alergi, olahraga teratur untuk meningkatkan imun tubuh," tutur alumni spesialis THTKL Universitas Padjajaran itu. 

Selain memperbaiki gaya hidup, menghindari papaparan zat yang dapat menggangu lapisan dalam (mukosa) hdung juga bisa dilakukan dengan metode pengobatan yang bisa mengurangi radang atau pembengkakan dan bisa mengurangi alerginya.

Serta obat yang dapat mengurangi sumbatan dan pemberian antibiotik diberikan sebijak mungkin karena penyakit rhinosinusitis ini paling banyak disebabkan oleh virus, bukan bakteri. 

Setelah dilakukan pengobatan secara maksimal tetapi tidak ditemukan perubahan, maka langkah terakhir akan dilakukan tindakan operasi dengan tujuan membuka saluran yang tertutup atau tersumbat, dan memelihara lapisan-lapisan yang masih berfungsi dengan baik. 

"Jadi selama tidak ditemukan komplikasi pada penyakit rinosinusitis, maka tindakan operasi tidak diperlukan," pungkas dokter Fransiskus.
(REN)