FITNESS & HEALTH

Begini Cara BPA Bermigrasi dari Kemasan Plastik ke Air

Medcom
Rabu 17 Februari 2021 / 21:50
Jakarta: Selama ini selalu diberitakan bahwa kemasan plastik polikarbonat dengan kode plastik no 7 mengandung Bisphenol A alias BPA berbahaya. Tapi tidak pernah dijelaskan bagaimana BPA yang berbahaya ini melakukan migrasi dari kemasan plastik polikarbonat ke air yang disimpannya?

Menurut Danish Ministry of the Environment dalam tulisan Environment project no 1710 tahun 2015, tentang Migration of Bisphenol A from Polycarbonate Plastic of different qualities, disimpulkan kalau pelepasan BPA dari PC dalam kontak dengan simulasi makanan berkorelasi positif dengan suhu (T) dan waktu (t) kontak.

Pada suhu yang lebih rendah (misalnya 0-70C) pelepasan BPA lambat dan dikendalikan oleh difusivitas dalam jumlah besar dan polimer padat. Pelepasan BPA lambat ini tentu saja tetap berbahaya, karena walaupun kecil jumlah migrasi BPA-nya tetap saja dapat mencemari makanan atau minuman.

Jurnal ilmiah diterbitkan pada 2019 dengan melakukan penelitian yang melibatkan beberapa pihak. Di antaranya, Bayu Nugroho (Politeknik Ilmu Pelayaran Balikpapan), Yudhiakto Pramudya (Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta) dan Widodo (Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta).

Dalam penelitian yang berjudul The Content Analysis of Bisphenol A (BPA) on Water in Plastic Glass with Varying Temperatures and Contact Times Using UV - VIS Spectrophotometer itu, mendapatkan konklusi bahwa, makin lama waktu kontak dan suhunya makin tinggi, maka makin tinggi pula konsentrasi BPA-nya.

Luruhnya BPA ini akibat suhu panas yang lama secara kontinyu tentu saja berbahaya. Sebab dapat langsung mencemari air di dalam kemasan plastik yang mengandung BPA.
 

Perjalanan BPA di galon


Dalam kehidupan sehari-hari bisa dilihat sebagai contoh dengan galon guna ulang yang berkode plastik No.7. Kita tidak pernah tahu bagaimana galon guna ulang tersebut mengalami beberapa kali paparan matahari.

Saat baru keluar dari pabrik kemudian diangkut dengan truk menuju ke gudang distributor kemudian dari distributor dikirim ke star outlet juga menggunakan truk, dari star outlet dikirim ke toko-toko, semua menggunakan truk. Yang sangat mungkin terkena paparan matahari.
Belum lagi ketika dipajang di toko-toko, tak sedikit yang terkena matahari juga.

"Saat galon mengalami pencucian, untuk kemudian digunakan lagi, galon disemprot dengan air panas bersuhu sekitar 70 derajat Celcius. Nah pada kesempatan ini, galon mengalami pemanasan yang bukan tidak mungkin mengaktifkan zat BPA-nya yang berbahaya," ujar Roso Daras, selaku Ketua Aliansi Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (AJPKL)

BPA yang luruh ke air, tentu saja sangat berbahaya bagi bayi, balita dan janin pada ibu hamil. Botol susu bayi sudah diwajibkan terbebas dari BPA, karena bersentuhan langsung. Nah air yang digunakan untuk mencampur susu bubuk, misalnya harus juga terbebas dari bahan yang mengandung BPA.

"Kalau botolnya sudah free BPA tapi airnya dari galon yang belum free BPA hal itu jelas sangat berisiko. Bahaya terpapar BPA dapat mengakibatkan terganggunya hormonal, perkembangan organ tubuh, dan perilaku serta gangguan kanker di kemudian hari," jelas Roso Daras.

"Jadi soal bagaimana migrasi BPA ke air? Jelas faktor yang menentukan adalah suhu dan lamanya kontak dengan galon yang berkode plastik No.7 tersebut. Semakin panas dan semakin lama, maka konsentrasi BPA makin tinggi. Misal, galon guna ulang yang berbahan polikarbonat diangkut dari pabrik menuju gudang dan terkena paparan matahari, di situ jelas berpengaruh kepada pelepasan BPA," tegas Roso Daras.

Walaupun kecil sekali adanya nilai migrasi, menurut Roso Daras, itu tetap ada dan berpotensi meninggalkan residu pada produk. Belum lagi jika galon tersebut berkali-kali digunakan.

"Pertanyaannya adalah, sampai berapa kali galon berkode plastik No.7 tersebut digunakan berulang kali? Atas dasar apa produsen mengetahui galon tersebut sudah digunakan berapa kali," tuturnya.


Roso Daras, Ketua Aliansi Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (Dok. Pribadi)

Permenperin sebenarnya sudah mengatur mengenai pemberlakuan SNI secara wajib untuk produk AMDK yang merevisi peraturan tahun 2016. Di situ, terdapat suatu acuan dalam pencucian kemasan galon yang pakai ulang dalam suatu Peraturan Menteri Perindustrian No.26 tahun 2019. Pada halaman 31 ada metode pencucian kemasan pakai ulang dengan menggunakan detergen foodgrade dengan suhu 55-75C.

Sayangnya, hingga kini belum ada peraturan pemerintah tentang penggunaan kemasan plastik berbahan polikarbonat dengan kode No.7 yang digunakan berulang kali secara mendetail. Seperti bagaimana standar distribusinya, bagaimana standar kualitasnya dan standar bagaimana mencegah agar BPA yang berbahaya tidak terlepas dan bermigrasi larut dalam air.

Itu sebabnya, langkah Roso Daras mendesak BPOM untuk memberi label pada galon guna ulang supaya tidak dikonsumsi oleh bayi, balita dan janin sungguh tepat mengingat wadahnya mengandung BPA.
 

BPA dan Autism


Penelitian terbaru dilakukan pada Januari 2021 oleh Scientific Reports mengenai hubungan BPA dan Autism. Menyimpulkan, autisme memiliki prevalensi lebih tinggi pada pria dibandingkan wanita. Dan, Bisphenol A (BPA) adalah bahan kimia umum yang ditemukan dalam plastik makanan kita dan bahkan plasenta manusia.

"Paparan BPA sebelum melahirkan yang lebih tinggi diduga meningkatkan risiko autisme. Para peneliti telah mengidentifikasi gen kandidat autisme yang mungkin bertanggung jawab atas efek spesifik jenis kelamin dari BPA," demikian kesimpulan berdasarkan jurnal internasional yang berjudul: Sex difference in the effects of prenatal bisphenol A exposure on autism - related gemes and their relationships with the hippocampus functions.
(FIR)