FITNESS & HEALTH

Mengapa Gejala Pasien Demam Berdarah Bisa Berbeda pada Setiap Individu?

Raka Lestari
Jumat 11 Juni 2021 / 15:05
Jakarta: Salah satu gejala demam berdarah dengue (DBD) yang khas adalah demam. Biasanya 3 - 7 hari pertama adalah masa kritis pada pasien demam berdarah dengue.

Meskipun demikian, gejala pada pasien demam berdarah bisa berbeda-beda. Gejala pada satu pasien, mungkin saja tidak dialami oleh pasien demam berdarah lainnya.

"Jadi kalau virus dengue masuk ke dalam tubuh seseorang itu dibagi dua. Bisa tanpa gejala, bisa sakit. Nah yang tanpa gejala ini tidak akan ke dokter tentunya," ujar dr. Erni Juwita Nelwan, SpPD, ahli penyakit tropik dan infeksi dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) dalam Keterangan Pers Kementerian Kesehatan terkait dengan Asean Dengue Day.

Meskipun demikian, pasien tanpa gejala pada DBD menurut dr. Erni, masih bisa bisa menularkan penyakit kalau ada nyamuk. Makanya vektor kontrol itu penting. Jadi nyamuk bisa gigit orang yang asimptomatik ini tapi virusnya sudah masuk ke dalam tubuh seseorang tersebut tapi tidak sakit.

"Nah kalau dia bergejala, gejalanya bisa sebanyak ini. Dari yang cuma demam, pegal linu sehari hilang, tapi ada yang sampai demam dengue karena gejalanya lebih lengkap. Ada yang sampai kebocoran pembuluh darah atau plasma leakage. Bisa tensi turun dengan syok, bisa tanpa syok. Bahkan ada yang gejalanya tidak khas," jelas dr. Erni.

Lalu, mengapa gejala pada pasien DBD bisa berbeda-beda? dr. Erni mengatakan sesuatu yang masuk ke dalam tubuh seseorang, dia akan menimbulkan respons saat sistem imun orang tersebut bekerja.

"Jadi kalau imunnya bagus memang pada demam berdarah, misalnya pada anak, kalau imunnya bagus justru gejalanya bisa lebih berat. Karena sistem imunnya itu merespons, bereaksi terhadap si virus," ujar dr. Erni.

"Saya katakan, bahwa demam berdarah yang datang pada kondisi ringan tapi sudah demam berdarah, atau sudah ada kebocoran plasma itu kalau kita tidak antisipasi. Seperti dengan mengganti cairannya secara cukup, memantau jangan sampai trombosit rendah, muncul perdarahan, dan seterusnya, kalau itu tidak dilakukan maka bisa jadi berat," tegas dr. Erni.

Sementara itu adanya pasien dengan gejala yang berat atau ringan, dr. Erni menjelaskan bahwa, itu semua tergantung respons imun pada setiap individu. Dan juga tergantung virus yang masuk ke dalam tubuh karena masing-masing virus memiliki keganasan yang berbeda serta tergantung dari seberapa banyak virus yang masuk.

"Jadi artinya bisa berbeda-beda pada setiap orang. Kita harus antisipasinya itu cek sesegera mungkin, pastikan kalau kita sakit ada di titik yang mana, perlu dirawat atau tidak karena tidak semua demam berdarah harus dirawat," kata dr. Erni.

Tapi kalau trombositnya sudah di bawah 30 ribu, kemudian usia sudah lanjut, ada darah tinggi, tensi bisa naik sewaktu-waktu, kata dr. Erni, tidak bisa masuk cairan. Sebab mual muntah dan sebagainya, tentu ini bisa jadi pertimbangan untuk mungkin butuh perawatan di rumah sakit.

"Jadi harus dilihat, pastikan dicek oleh dokter, untuk kehati-hatian kita dan keluarga kita," tutup dr. Erni.
(FIR)