FITNESS & HEALTH

Cara Membedakan Kesedihan dengan Depresi

Raka Lestari
Minggu 17 Januari 2021 / 18:22
Jakarta: Perasaan sedih merupakan hal yang sangat umum dan pastinya pernah dirasakan oleh setiap orang. Perasaan sedih merupakan emosi yang dirasakan sebagai manusia. Namun, sedih juga bisa menjadi tanda bahwa seseorang mengalami depresi.

"Kesedihan adalah perasaan dan depresi adalah penyakit," kata konselor Julienne B. Derichs, LCPC, kepada Bustle.

Kesedihan umumnya bersifat sementara dan terbatas cakupannya. Sedangkan depresi dapat memengaruhi hidup, tingkat energi, dan kemampuan seseorang untuk berfungsi dan cenderung bertahan lama.

Dan untuk mengetahui lebih lanjut, berikut ini adalah tanda-tanda yang mungkin menunjukkan bahwa seseorang mengalami depresi:


Tidak dipicu oleh faktor eksternal


"Merupakan hal yang wajar untuk mengalami kesedihan saat sedang menghadapi situasi yang menyebabkan kamu kecewa," kata psikoterapis dan pakar kesehatan mental Marline Francois, LCSW. Hal-hal tersebut bisa menjadi faktor eksternal.

Sedangkan depresi, bisa datang dengan sendirinya dan tampaknya tidak disebabkan oleh faktor eksternal. Itulah mengapa, jika kamu dapat menunjukkan dengan tepat mengapa kamu merasa sedih maka kemungkinan itu adalah reaksi standar terhadap situasi yang menjengkelkan dan bukan depresi.
 

Kamu merasa tidak bisa mengatasinya


Jika kamu merasa sedih pada umumnya, kamu mungkin dapat memahaminya. Namun jika depresi, emosi yang kamu rasakan mungkin akan terasa sangat berlebihan.

"Kesedihan dapat menyebabkan perubahan mood, tetapi depresi akan menyebabkan tekanan psikologis," kata Francois. "Kesedihan hanyalah salah satu gejala depresi, tapi depresi akan memengaruhi kesejahteraan emosional secara keseluruhan."
 

Mulai menjauhi teman-teman


Saat kesedihan melanda, kamu mungkin masih ingin bertemu teman dan keluarga karena kamu tahu mereka akan menghibur. Derichs mengatakan depresi sering menyebabkan orang mengisolasi diri mereka sendiri. Berdasarkan sebuah studi di The Lancet pada tahun 2020 menemukan bahwa mengisolasi diri sebenarnya dapat meningkatkan risiko depresi.
 

Tidak bisa fokus terhadap hal lain


Sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2020 dalam Progress in Neuro-Pharmacology & Biological Psychiatry menemukan bahwa orang dengan depresi cenderung merenung, atau memikirkan depresinya berulang kali, karena jaringan perhatian otak mereka dipengaruhi oleh depresi yang mereka rasakan tersebut. 
 

Perasaan sedih yang tidak hilang


Derichs mengatakan kesedihan bisa hilang dengan sendirinya, bahkan jika kamu tidak melakukan apa-apa. Namun hal itu tidak terjadi dengan depresi. Menurut American Psychiatric Association, perasaan sedih atau suasana hati yang buruk yang berlangsung selama dua minggu kemungkinan merupakan tanda depresi.
(YDH)