FITNESS & HEALTH

Glaukoma: Gejala, Pengobatan, dan Makanan yang Harus Dihindari

Sandra Odilifia
Sabtu 17 April 2021 / 12:09
Jakarta: Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), glaukoma adalah penyebab paling umum kedua dari kebutaan permanen di seluruh dunia, setelah katarak. Diperkirakan hingga tahun lalu, beban global glaukoma mencapai sekitar 79,6 juta, dengan hampir separuhnya adalah orang Asia.

Glaukoma merupakan penyakit mata yang merusak saraf optik mata, yang mengirimkan informasi visual ke otakmu. Secara umum glaukoma tidak memiliki gejala.

Namun matamu akan mengalami tekanan yang meningkat, dan jika dibiarkan bisa menyebabkan kebutaan. Kenaikan tekanan ini timbul secara bertahap dan proses kerusakannya lambat.

Tetapi ada beberapa tanda dan gejala awal yang bisa kamu rasakan seperti nyeri dan mata berat, melihat lingkaran cahaya di sekitar lampu, kehilangan penglihatan, dan kemerahan pada mata.

Oleh karena itu, sangat penting untuk memeriksakan mata setiap tahun setelah usia 40 tahun, untuk mendeteksi glaukoma. Upaya ini melibatkan pemeriksaan penglihatan, saraf optik, pengukuran tekanan mata, dan dalam kasus yang mencurigakan, akan dilakukan tes seperti perimetri & OCT.

Adapun orang yang lebih berisiko terkena glaukoma adalah orang yang memiliki riwayat keluarga glaukoma, orang-orang yang rentan, berusia 40 tahun ke atas, memiliki riwayat cedera mata seperti terkena bola tenis di masa lalu, orang yang menggunakan steroid untuk penyakit lain, dan juga orang yang mengidap diabetes serta hipertensi.

Terkadang penyakit mata tertentu seperti radang juga dapat menyebabkan glaukoma. Bahkan anak-anak juga bisa terkena glaukoma. Itu terjadi ketika ada masalah terkait perkembangan yang disebut glaukoma kongenital.

Selain itu pada orang dewasa, penyakit ini mungkin muncul sebagai peningkatan tekanan akut yang disebut glaukoma sudut tertutup (angle-course glaucoma) di mana pasien mungkin menderita nyeri akut, kemerahan dan penglihatan kabur.

Gejala glaukoma sudut tertutup biasanya datang lebih cepat dan lebih jelas. Namun dalam kebanyakan kasus, tipe ini juga sulit terdeteksi kecuali jika dilihat oleh dokter mata dan karenanya menimbulkan risiko kebutaan yang lebih tinggi.

Oleh karena itu, pemeriksaan berkala menjadi suatu keharusan, terlebih dengan faktor-faktor risiko yang telah disebutkan.
 

Pengobatan


Kontrol tekanan mata adalah satu-satunya cara untuk menghentikan perkembangan glaukoma. Namun, kerusakan yang sudah terjadi tidak dapat dikembalikan.

Untuk mengontrol tekanan, ada obat tetes mata yang dapat diberikan, tetapi kamu perlu hati-hati karena beberapa obat glaukoma dapat memengaruhi jantung dan paru-paru.

Jika tekanan tetap tidak terkontrol, maka prosedur laser bisa menjadi pilihan. Dan sebagai upaya pengobatan terakhir, kontrol bedah dengan operasi filterasi atau prosedur tube shunt perlu dilakukan.
 

Makanan yang harus dihindari


Meskipun kebanyakan orang mungkin tidak mengetahui hal ini, tetapi makanan yang kamu makan dapat sangat memengaruhi matamu. Makanan dapat menyebabkan kerusakan langsung atau tidak langsung pada saraf optik dan meningkatkan tekanan intraokular.

Lemak trans dapat merusak pembuluh darah yang dapat merusak saraf optik. Menghindari gorengan dan makanan olahan yang tinggi lemak trans seperti kentang goreng, ayam goreng, dan keripik kentang dapat membantu mengurangi risiko.

Lemak jenuh menyebabkan penambahan berat badan yang meningkatkan Indeks Massa Tubuh (BMI). BMI yang tinggi telah dikaitkan dengan tekanan intraokular dan glaukoma.

Sebaiknya hindari makanan tinggi lemak jenuh seperti mentega, keju, susu murni, dan daging berlemak. Selain itu, kopi berkafein juga dapat meningkatkan tekanan mata.

Pemeriksaan mata secara teratur, makan makanan sehat dan kontrol tekanan mata sejak dini adalah kunci untuk melawan gangguan kebutaan ini.
(FIR)