FITNESS & HEALTH

Perubahan Iklim dan Peningkatan Risiko DIabetes

Raka Lestari
Kamis 08 April 2021 / 14:06
Jakarta: Perubahan iklim yang sudah sejak lama diprediksi memiliki berbagai dampak negatif pada aspek kehidupan. Dan saat ini, secara perlahan dampak dari perubahan iklim sudah mulai dirasakan.

Tidak hanya bagi lingkungan, perubahan iklim juga bisa memberikan dampak negatif pada aspek kesehatan. Salah satunya adalah diabetes.

Menurut dr. Dicky Tahapary, Ph.D., SpPD-KEMD, Staff Divisi Endokrin, Metabolik, dan Diabetes, Departemen Penyakit Dalam RSCM-FKUI, perubahan iklim saat ini nyata adanya dan memiliki dampak bagi kesehatan.

Menurut NCBI (National Center for Biotechnology Information) Amerika Serikat menyebutkan bahwa peningkatan suhu dan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim global, dapat meningkatkan risiko masyarakat menjadi lebih mudah sakit.

"Bahkan mengalami kematian, terutama bagi para penderita diabetes yang memiliki komplikasi kardiovaskular," ujar dr. Dicky dalam acara #BeatDiabetes Online Festival  2021, pada Rabu, 7 April 2021.

Tidak hanya itu, menurut dr. Dicky, para penderita diabetes cenderung mengalami dehidrasi dan heatstroke (serangan stroke akibat gelombang panas) ketika suhu lingkungan meningkat, sehingga berisiko mengalami masalah kesehatan kardiovaskuler dan bahkan serangan jantung," jelas dr. Dicky.

“Di sisi lain, perubahan iklim juga memberikan dampak tidak langsung dengan peningkatan risiko diabetes, dimana produksi bahan makanan segar berkualitas berkurang sehingga cenderung mengonsumsi produk makanan olahan yang tinggi gula dan kalori, sehingga meningkatkan risiko obesitas dan diabetes," ungkap dr. Dicky.

Selanjutnya, dr. Dicky juga menjelaskan bahwa berdasarkan data riset dari International Diabetes Federation menyebutkan bahwa, diabetes dan perubahan iklim merupakan dua tantangan global yang saling berhubungan satu dengan lainnya dan perlu diperhatikan oleh masyarakat dunia, termasuk Indonesia.

“Yang menarik dari sebuah survey independen yang berhasil menjaring 129 responden anak muda Indonesia berusia 20-34  tahun  mengenai persepsi terhadap risiko diabetes, perubahan  iklim dan hubungan antara keduanya ditemukan bahwa hanya 16,3 persen anak muda Indonesia yang percaya dirinya memiliki kemungkinan terkena diabetes," ujar dr. Rudy Kurniawan, Sp.PD, pendiri Komunitas Sobat Diabet.

"Ironisnya, 85,2 persen anak muda di Indonesia setuju dan sangat setuju bahwa perubahan iklim sudah terjadi dan 47,3 persen anak muda di Indonesia setuju dan sangat setuju bahwa ada hubungan antara perubahan iklim dan diabetes," tambah dr. Rudy.

Menurut dr. Rudy, data ini mengindikasikan bahwa kesadaran anak muda akan lingkungan terkait perubahan iklim lebih tinggi dibandingkan dengan kesadaran akan risiko diabetes, padahal diabetes bisa dicegah apabila anak muda Indonesia sadar akan risikonya serta menjalani gaya hidup sehat.
(FIR)