FITNESS & HEALTH

Serangan Jantung Bisa Menyebabkan Kematian Mendadak pada Sleep Apnea

Raka Lestari
Sabtu 30 Oktober 2021 / 12:15
Jakarta: Salah satu gejala dari obstructive sleep apnea (OSA) adalah mendengkur. Hal ini tentunya bisa menganggu kualitas tidur.

Pada beberapa kasus, seseorang meninggal ketika mereka mendengkur. Namun, apakah memang mendengkur bisa menyebabkan kematian?

“Henti napas ketika tidur atau OSA dapat menyebabkan penurunan oksigen di dalam tubuh. Badan menjadi stres dan akan bereaksi,” ujar Dr. dr. Fauziah Fardizza, Sp.THT-KL (K), FICS, dokter spesialis THT - bedah kepala & leher konsultan laring faring yang berpraktik di RS Pondok Indah, dalam acara media discussion.

Salah satunya ketika oksigen dalam badan tidak cukup, maka otakmu akan langsung bereaksi dan menginstruksikan jantung, untuk memompakan oksigen yang ada di dalam darah agar dipompa dengan cepat.

"Jantungnya akan berdebar lebih cepat. Kalau anak kita ada yang suka deg-degan kalau malam, kemungkinan dia sleep apnea,” tutur dr. Fauziah.

“Akibatnya tekanan darah menjadi tinggi, nadi yang cepat, volume darah yang tinggi, inflamasi dan stres. Serangan jantung lah yang dapat menyebabkan kematian mendadak pada sleep apnea sebenarnya. Seseorang tidak mungkin berhenti napas terus-terusan, tapi serangan jantungnya yang akan menyebabkan kematian pada orang OSA,” jelas dr. Fauziah.

Pada 2010, American Journal of Respiratory and Ciritical Care Medicine menyatakan bahwa OSA meningkatkan risiko stroke 2-3 kali. Tahun 2013, Journal of the American College of Cardiology menyatakan bahwa penderita OSA mempunyai risiko tinggi kematian akibat komplikasi jantung. Penelitian ini menemukan bahwa OSA dapat meningkatkan kematian akibat serangan jantung.

“Penanganan OSA sendiri itu bisa lifestyle modification untuk menurunkan berat badan. Faktor risiko OSA adalah kegemukan atau obesitas, usia diatas 50 tahun, dan laki-laki. Pada anak-anak ada adenoid hipertonsil, hipertopi tonsil, itu juga bisa mengakibatkan adanya sumbatan jalan napas. Dan kelainan struktur tulang kepala,” tutup dr. Fauziah.
(FIR)