FITNESS & HEALTH

Kebiasaan Merokok Faktor Risiko Terbesar untuk PPOK

Raka Lestari
Jumat 20 November 2020 / 14:19
Jakarta: Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) adalah penyakit kronis penyebab utama kesakitan dan kematian di dunia. Menurut data prevalensi RISKESDAS 2013, diperkirakan ada lebih dari 10 juta orang yang hidup dengan PPOK di Indonesia, di mana mayoritasnya dengan riwayat merokok atau hidup di area dengan polusi udara.

“PPOK adalah penyakit kronis saluran napas yang ditandai dengan hambatan aliran udara khususnya udara ekspirasi dan bersifat progresif lambat di mana semakin lama akan semakin memburuk,” ujr dr. Budhi Antariksa, SpP (K), Ph.D, Dokter Spesialis Paru, Konsultan Asma dan PPOK di RSUP Persahabatan.

"PPOK disebabkan oleh merokok, polusi udara baik di dalam maupun di luar ruangan. Awal terjadinya penyakit ini biasanya pada usia pertengahan dan tidak hilang dengan pengobatan,” tambah dr. Budhi.

“Adapun gejala-gejala PPOK yaitu mengalami sesak napas yang bertambah ketika beraktivitas dan bertambah seiring meningkatnya usia disertai batuk berdahak atau pernah mengalami sesak napas disertai batuk berdahak,” ujar dr. Budhi.

Penurunan fungsi paru akibat PPOK akan lebih parah pada perokok dibandingkan yang bukan perokok. Selain itu, penurunan fungsi paru pada perokok dapat berujung pada disailitas. Pasien PPOK biasanya tidak dapat melakukan aktivitasnya sehari-hari secara mandiri dan akan tergantung pada tabung oksigen.

“Asap rokok adalah faktor risiko paling penting untuk PPOK. Selain merokok, faktor risiko lain seperti status sosial ekonomi, pekerjaan, polusi lingkungan, penyakit pada masa anak-anak, serta infeksi saluran napas yang berulang juga menjadi faktor risiko lainnya untuk PPOK,” ujar dr. Budhi.

Menurut dr. Budhi, faktor risiko PPOK di Indonesia termasuk tinggi mengingat prevalensi perokok di Indonesia peringkat tiga besar terbanyak di dunia. Data GATS pada 2013 menunjukkan prevalensi perokok di Indonesia usia lebih dari 15 tahun adalah 67 persen untuk laki-laki.
(FIR)