FITNESS & HEALTH

Hubungan antara Gangguan Irama Jantung dengan Stroke

Raka Lestari
Jumat 01 Oktober 2021 / 14:09
Jakarta: Aritmia dikenal juga dengan penyakit kelainan irama jantung. Hal ini bisa menimbulkan kondisi yang fatal, salah satunya adalah stroke.

Diketahui bahwa stroke merupakan penyakit yang bisa mengancam jiwa. Terutama ketika seseorang yang mengalami serangan stroke tersebut, tidak segera dibawa ke rumah sakit.

Menurut dr. Rakhmad Hidayat, Sp.S(K), MARS selaku Dokter Spesialis Saraf RSUI, penyebab gangguan irama jantung di antaranya akibat faktor genetik, sinyal elektrik jantung tidak normal, dan perubahan jaringan jantung normal. Angka kejadian stroke iskemik pada pasien aritmia lebih tinggi yaitu 5 kali lipat.

Dr. Rakhmad menjelaskan bagaimana hubungan antara aritmia dan stroke. Hal ini diawali dari adanya gangguan kontraksi jantung, sehingga membuat aliran darah tertahan.

Aliran darah yang tertahan akan membentuk gumpalan (tromboemboli), yang dapat terbawa ke otak. Hal ini dapat menyumbat pembuluh darah di otak, yang akhirnya menyebabkan stroke.

“Stroke juga dapat memicu terjadinya aritmia, sebanyak 52 persen pasien stroke yang tidak memiliki penyakit jantung sebelumnya mengalami aritmia. Kerusakan pada jaringan otak mempengaruhi sistem saraf autonom pada tubuh yang mengatur irama dan laju jantung," ujar dr. Rakhmad.

"Kematian sel otak juga dapat merangsang respon peradangan umum tubuh yang memicu aritmia. Aritmia ditemukan lebih banyak pada stroke yang melibatkan otak sisi kanan dan area insula pada otak” paparnya.

Beberapa tips pencegahan stroke pada pasien aritmia, di antaranya:

- Melakukan gaya hidup sehat, seperti tidak merokok.
- Tidak mengonsumsi minuman beralkohol.
- Hindari makanan yang berlemak dan mengandung natrium tinggi.
- Melakukan olahraga rutin.
- Kontrol tekanan darah dan gula darah.
- Menjaga berat badan agar ideal.
- Rutin meminum obat yang diresepkan oleh dokter.

“Pasien juga sebaiknya minum obat rutin yang telah diresepkan dokter, perbaiki irama dan laju jantung dengan mengonsumsi obat laju jantung (beta bloker) atau irama jantung (digoksin), atau obat yang mencegah penggumpalan darah yaitu obat pengencer darah (aspirin/warfarin). Pemakaian obat-obatan ini harus sesuai dengan indikasi dokter,” tutup dr. Rakhmad.
(FIR)