FITNESS & HEALTH

Siswi SMA di Blitar Gantung Diri karena Putus Cinta, Ini Penjelasan Psikolog

Raka Lestari
Rabu 22 Desember 2021 / 13:37
Jakarta: Beberapa waktu lalu tersebar berita mengenai siswi kelas 10 di SMAN 1 Srengat, Blitar, Jawa Timur mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di pintu sekolahnya. Salah satu dugaan sementara mengenai kematian siswi berinisial FV tersebut, karena masalah putus cinta serta mengalami perundungan.  

Mengenai hal tersebut, Psikolog Klinis dan Keluarga dari Universitas Parahyangan Efnie Indrianie memberikan ulasannya. Menurutnya. masa remaja merupakan masa peer group, artinya masa di mana kebersamaan dengan rekan sebaya itu menjadi sangat penting.

"Oleh karena itu, berbagai cara dilakukan oleh seorang remaja agar ia bisa diterima di lingkungan pertemanan tersebut. Namun, terkadang terdapat sejumlah aturan tidak tertulis dalam pergaulan tersebut," ujar Efnie.

Baca juga: Putus Cinta, Penyebab Siswi SMA di Blitar Gantung Diri di Sekolah

"Pada umumnya aturan tentang konformitas pada kelompok. Apabila remaja tersebut tidak atau sulit untuk mengikutinya, maka remaja tersebut akan rentan menerima reaksi penolakan dan perundungan dari peer groupnya," jelas Efnie.  

Menurut Efnie, penolakan dan perundungan yang diterina bisa membuat seorang remaja merasa keberadaan dirinya sudah tidak penting, dan untuk menghindari rasa sakit mereka berusaha lari dari realitas tersebut. Ekstremnya memang bisa sampai mengakhiri hidup.

"Namun di sisi lain, masa remaja juga merupakan masa di mana seseorang mulai atau semakin tertarik dengan lawan jenisnya. Didorong oleh rasa ingin tahu yg besar, makanya seorang remaja akan mulai melakukan eksplorasi dan menjalin kedekatan dengan seseorang yang menjadi ketertarikannya," tambah Efnie.

Bagi sebagian remaja, relasi kedekatan dengan lawan jenis apakah itu dalam bentuk pacaran, teman dekat, teman tapi mesra (TTM), atau yg lainnya ternyata bisa membuat mereka menjadi memiliki emotional attachment yang mendalam dengan orang tersebut.

Baca juga: Polisi Ungkap Motif Siswi SMA di Blitar Bunuh Diri di Depan Kelas

"Apabila hal ini sudah terjadi, maka pikiran yang terbentuk pada seorang remaja adalah bahwa ia harus terus bersama, ia adalah segalanya, jika orang tersebut tidak ada/pergi maka akan memicu krisis luar biasa pada remaja tersebut," ujar Efnie.

Krisis ini merupakan bentuk dari luapan-luapan emosi negatif. Apabila tidak ditangani dengan segera maka akan membuat fungsi logika berpikir akan dibajak oleh amigdala otak (emosi).

"Hal yang terjadi bisa fatal karena hanya dalam hitungan detik amigdala akan memangkas kemampuan berpikir yang rasional sehingga remaja tersebut bisa melakukan hal-hal esktrem yang bisa saja berujung pada kematian," tutup Efnie.
(FIR)