FITNESS & HEALTH

Berbagai Masalah Psikologis yang Terjadi Selama Pandemi

Kumara Anggita
Kamis 15 Oktober 2020 / 08:57
Jakarta: Pandemi adalah situasi yang berat. Tak jarang, beberapa dari kita jadi mengalami gangguan psikologis. Terkait masalah ini, Perhimpunan Dokter Spesialis kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dan Ikatan Psikologi Klinis Indonesia (IPK Indonesia) mengukur kondisi kesehatan jiwa masyarakat selama pandemi covid-19

Mereka mengadakan penelitian dan mendapatkan temuan dalam melakukan layanan pada masyarakat tentang gambaran masalah psikologis masyarakat yang mengakses swaperiksa web PDKSJI dan gambaran masalah psikologis pada masyarakat yang mengakses layanan psikologi klinis selama pandemi covid-19.

“Sejak ditemukan kasus covid-19 pertama kali, PDSKJI segera meluncurkan Swaperiksa Web guna mencegah kepanikan massal dalam suasana batin yang mencekam, sekaligus untuk membantu masyarakat dalam menangani perasaan tidak nyaman,” ujar DR. Dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ, MARS.
 

Gambaran masalah psikologis masyarakat yang mengakses Swaperiksa Web PDSKJI

 

1. Masalah Psikologis


Selama Oktober 2020, jumlah pengisian swaperiksa masyarakat di web PDSKJI berjumlah 5661 buah, berasal dari 31 provinsi dengan temuan 32 persen mengalami masalah psikologis dan 68 persen tidak ada masalah psikologis.
 

2. Gejala Cemas


Dari 2606 swaperiksa, sebanyak 67.4 persen yang mengisi swaperiksa mengalami gejala cemas. Gejala Kecemasan terbanyak ditemukan pada kelompok usia <30 tahun dengan uraian: sebanyak 75,9 persen terjadi pada kategori usia <20 tahun; 71,5 persen pada usia 20-29 tahun; 58,8 persen pada usia 30-39 tahun; 48,7 persen pada usia 40-49 tahun; 42 persen usia 50-59 tahun; dan 47,1 persen usia >60 tahun.
 

3. Depresi


Dari 2294 swaperiksa, sebanyak 67,3 persen yang mengisi swaperiksa mengalami gejala depresi, di mana 48 persen dari responden berpikir lebih baik mati atau ingin melukai diri dengan cara apapun. Pikiran kematian terbanyak pada rentang usia 18-29 tahun.
 

4. Trauma Psikologis


Dari 761 swaperiksa, terdapat 74,2 persen yang mengisi swaperiksa mengalami gejala trauma psikologis. Gejala Trauma Psikologis terbanyak ditemukan pada kelompok usia <30 tahun, dengan keluhan tersering berupa perasaan waspada terus menerus dan merasa sendirian atau terisolasi dengan uraian: 90,6 persen terjadi pada kategori usia <20 tahun; 73,4 persen pada usia 20-29 tahun; 76,5 persen pada usia 30-39 tahun; 55 persen pada usia 40-49 tahun; 38,9 persen pada usia >50 tahun.
 

5. Bunuh Diri


Dengan 110 swaperiksa, 68 persen yang mengisi Swaperiksa Bunuh Diri memiliki pemikiran tentang bunuh diri dan 5 persen di antaranya memiliki rencana matang dan telah mengambil tindakan dari hasil swaperiksa yang mengatakan memiliki pemikiran bunuh diri, 66 persen belum pernah mendapatkan pengobatan.

“Untuk menindaklanjuti tingginya persentase swaperiksa yang mengalami gangguan, PDSKJI bertekad untuk membuka jangkauan layanan yang lebih luas dengan mendorong para profesional kesehatan jiwa untuk bergandeng tangan bersama dengan tujuan penemuan dan penalataksaan lebih dini terhadap orang dengan masalah psikologis,” ujar DR. Dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ, MARS.

Beberapa program strategis PDSKJI dalam penanggulangan kesehatan jiwa meliputi edukasi tenaga profesional kesehatan jiwa, edukasi masyarakat untuk memeriksakan diri, pendampingan jarak jauh, serta akses pelayanan yang mudah dan aman.

(TIN)