FITNESS & HEALTH

Apakah Harga Swab PCR di Indonesia Tergolong Mahal?

Raka Lestari
Kamis 07 Januari 2021 / 21:25
Jakarta: Cara yang paling akurat untuk mendiagnosis seseorang terinfeksi covid-19 atau tidak adalah melalui pemeriksaan swab PCR. Namun sayangnya, biaya untuk melakukan pemeriksaan swab PCR ini masih dianggap mahal. 

Hal ini tentunya menjadi salah satu yang dikeluhkan oleh masyarakat di masa pandemi covid-19 ini. Lalu, mengapa haraga swab PCR di Indonesia mahal?

“Saya akan menjawab, kebetulan ada teman yang baru dari luar negeri, setahu saya harganya itu lebih mahal. Jadi, mungkin kalau dibilang mahal itu relatif, dibilang murah juga tidak,” ujar Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin, dalam acara Mata Najwa pada Rabu, 6 Januari 2021.

Ia juga menambahkan, “Sekarang kami baru berencana mengeluarkan Permenkes mengenai swab antigen. Dan memang secara resmi WHO juga menyebutkan bahwa swab antigen ini akurasinya juga cukup baik dan bisa lebih murah dan cepat,” kata Budi Gunadi.

“Kita harapkan dengan adanya swab antigen, jika sudah ada aturan secara resminya ini bisa menekan harga,” jelas Budi Gunadi. 

“Sebenarnya jika ingin melakukan PCR juga ini ada strategi testingnya. Tidak semua orang, misalnya mau ketemu seseorang maka harus melakukan PCR,” kata Budi Gunadi.

Menurut Budi Gunadi, hanya orang-orang yang suspek covid-19 saja yang melakukan PCR. “Kalau orang itu positif, barulah semua kerabat dekatnya harus melakukan PCR supaya ada tindak lanjut. Kalau mau datang ke suatu acara, lebih baik antigen saja,” ujarnya.

Di beberapa negara, ada yang menggratiskan masyarakatnya ketika ingin melakukan tes covid-19. Bagaimana dengan Indonesia? 

“Saya memiliki rencana, itu dengan menghitung anggaran terlebih dahulu. Jika tes PCR sesuai strategi untuk flattening the curve, bisa ditanggung negara karena untuk flattening the curve itu tadi,” ujar Budi Gunadi.

“Itu memang strategi negara untuk memastikan, tetapi kalau untuk ketemu nenek misalnya itu tidak bisa digratiskan,” tutup Budi Gunadi.
(TIN)