FITNESS & HEALTH

Apa Betul Laki-laki Tidak Boleh Menangis?

Yatin Suleha
Rabu 13 Januari 2021 / 13:00
Jakarta: Banyak anggapan bahwa laki-laki harus lebih kuat daripada perempuan. Ini termasuk mentalnya selain dari sisi fisiknya.

Ada juga yang beranggapan laki-laki tak boleh menangis karena itu tandanya lelaki cengeng. Seakan parameter kuatnya laki-laki adalah jika ia tidak menangis. 

Dinukil dari Narasirnewsroom melalui laman media sosial Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung, @efni_qo ia menyebutkan bahwa laki-laki boleh berkeluh kesah sampai dengan menangis.

Walau jelas tatanan sosial mengidentikkan laki-laki sebagai orang yang kuat dan tidak cengeng, nyatanya hal ini bisa berdampak pada psikologis atau mentalnya dan hal ini dikenal dengan sebutan toxic masculinity atau konstruksi sosial 'beracun' terhadap laki-laki.

Dalam survei The Men's Project dalam studi dari Australian Study reveals the dangers toxis masculinity to men and those around them dari Themanbox.org.au, disebutkan bahwa gagasan tentang 'kejantanan' bisa membuat para pria tertekan dan merasa depresi. Hal lain dari ini bisa saja berakibat melakukan tindakan kriminal, bunuh diri hingga pelecehan seksual.
 

Biologis perempuan dan laki-laki


Dalam sumber yang sama disebutkan bahwa secara biologis perempuan lebih mudah meneteskan air mata ketimbang laki-laki. Hal ini karena hormon testosteron ikut mengeram keinginan laki-laki untuk menangis.

Menurut Efnie dilihat dari sebagian besar di seluruh dunia laki-laki diminta berperilaku dan memiliki karakter tertentu salah satunya tidak mengekspresikan emosi yang mengandung kesedihan. Karena laki-kaki menurut Gender Stereotypes dituntut untuk menjadi lebih kuat dibandingkan perempuan.
 

Fenomena laki-laki antimenangis


Dalam historinya, fenomena laki-laki yang antimenangis (dalam artian laki-laki tak boleh menangis) bermula di abad 19 saat para pekerja pabrik yang didominasi oleh para pria. Saat itu mereka harus memendam emosi dan kesedihan agar tak menganggu produktivitas kerja.

Tapi di dalam masa pandemi ini toxic masculinity bisa bergeser. Dalam masa krisis seperti di pandemi bisa membuat kaum pria jadi lebih emosional.

Hal ini menurut Efnie berdasarkan pada kondisi yang menuntut satu sama lain saling membantu dan tidak terpikir apakah jenis kelaminnya perempuan atau laki-laki.

Di tengah tantangan dan kesulitan hidup seperti saat pandemi ini yang dialami oleh semua orang, tentu saja laki-laki boleh saja mengekspresikan emosi atau perasaan sehingga boleh menangis dan boleh berkeluh kesah menghadapai hidup.

"Kalau ada satu kegundahan dan ketidaknyamanan terkait emosi-emosi negatif atau perasaan yang harus dilepaskan, lakukanlah," ujar penulis buku “SURVIVE menghadapi Quarter Life Crisis” ini. 

Ia menambahkan, "Selalu ada limitasi dan kekurangan dalam diri kita, meskipun misalnya kita adalah seorang laki-laki. Jadi mengekspresikan, melepaskan, atau mengeluarkan emosi-emosi negatif tidak salah. Kenapa? Karena menjaga kesehatan mental jauh lebih penting untuk kita perhatikan."
(TIN)