FITNESS & HEALTH

Dua Metode Unggulan Myopia Control Care

A. Firdaus
Kamis 25 Februari 2021 / 06:08
Jakarta: Saat ini myopia atau mata minus menjadi epidemik atau wabah di dunia. Terbukti, myopia menyerang 30 % dari populasi dunia, dan diprediksi akan terus meningkat menjadi 50% pada 2050 mendatang.

Myopia memiliki dampak besar pada kualitas hidup seseorang. Contohnya dalam olahraga, menari, berlari, dan tentunya pada aktivitas sehari-hari lainnya.

Lantaran myopia biasanya terjadi sejak kecil, maka sasaran terapi myopia harus diberikan sejak sedini mungkin. Karena orang dewasa yang menderita myopia, tentunya dimulai dari usia anak-anak.

Terapi dalam mengontrol myopia umumnya terbagi menjadi dua metode. Yaitu terapi obat tetes atau low dose atropine dan juga terapi menggunakan lensa kontak atau Orthokeratology, yang juga biasa disingkat Ortho-K.
 

Atropine


Metode ini sudah ada lama di dunia medis, namun dahulu dosisnya masih besar. Sehingga efek samping yang didapat juga cukup banyak, seperti silau dan buram untuk melihat dekat. Namun, lantaran semakin maraknya penderita myopia ini, maka atropine dikembangkan dengan dosis yang lebih kecil.

Atropine bekerja sebagai agen anticholinegic, dengan mengekspresikan gene khusus, serta pembelahan sel di sclera untuk menghambat pemanjangan bola mata dan menghambat myopia.
Atropine dengan dosis kecil sangat efektif menghambat agresivitas myopia secara signifikan.

"Jadi walaupun dosisnya kecil tapi tetap optimal, dan tentunya tidak ada lagi efek samping yang dialami pasien myopia. Sehingga sangat mudah dan aman diberikan untuk anak-anak," ujar Dr. Damara Andalia, SpM selaku Wakil Ketua JEC Myopia Control Care dalam media launch: The First Comprehensive Myopia Management in Indonesia.

Atropine bisa diberikan untuk anak minus 1, bahkan pada anak pre myopia atau low myopia. Kita tahu myopia merupakan faktor genetik, jadi bisa diberikan atropine kepada sang anak, meski mereka belum mengalami myopia.

Caranya kerjanya mudah, hanya diteteskan hanya satu kali setiap malam. Keesokan harinya atau sehari-hari tetap bisa menggunakan kacamata saat beraktivitas.

"Terapi atropine ini sebaiknya diberikan selama dua tahun dan akan dinilai setiap enam bulan, bagaimana respons pasien terhadap atropine ini. Nanti dokter mata yang akan menilai apakah terapi ini dilanjutkan atau diberhentikan," terang dr. Damara.


Dr. Damara Andalia, SpM selaku Wakil Ketua JEC Myopia Control Care dalam media launch “The First Comprehensive Myopia Management in Indonesia” yang berlangsung secara daring. (Foto: Dok JEC)
 

Ortho-K


Peneliti di seluruh dunia berlomba-lomba memunculkan alat untuk mengendalikan myopia. Ortho-K ini adalah terapi menggunakan lensa kontak. Namun berbeda dengan lensa kontak biasanya, Ortho-K digunakan saat tidur.

Alat ini memiliki pori-pori yang besar dan mudah ditembus oleh oksigen. Jadi memang digunakan untuk tidur dan sangat aman. Bentuk dari Ortho-K ini juga elastis.

Ortho-K diciptakan dalam upaya melepas ketergantungan kacamata tanpa harus sang pasien melakukan operasi. Sifatnya sementara, dalam artian kapan pun pasiennya ingin berhenti menggunakan Ortho-K maka korneanya kembali ke bentuk semula.

"Ortho-K didesain khusus untuk membentuk permukaan depan kornea ketika penggunanya tidur. Misalnya targetnya ingin 0, maka bisa dikonsultasikan pasien tersebut ke dokter, ingin menargetkan berapa yang mau kita hilangkan minusnya," terang dr. Damara.

"Keesokan harinya saat melepas Ortho-K, pasien akan mendapatkan penglihatan jelas tanpa alat bantu apa pun," sambungnya.

Ortho-K bisa ditujukan untuk low to medium myopia. Low myopia maksudnya, ketika orang tua memiliki myopia minus 8, maka diduga sang anak akan menularkan dengan minus sebesar itu, bahkan lebih. Jadi indikasi-indikasi seperti itu bisa langsung diberikan kepada anak.

Kemudian pasien anak-anak atau orang dewasa yang belum bisa di-Lasik (operasi mata laser), takut di-Lasik, atau bukan kandidat baik untuk melakukan Lasik. Ortho-K juga menjadi opsi bagi pasien-pasien seperti yang memiliki alergi, atlet, model, pilot, atau pasien yang bekerja di daerah berdebu.

Tujuan utama Ortho-K adalah menghambat progresivitas myopia, menahan agar minus pasien tidak meningkat cepat. Kemudian untuk mengontrol atau mengoreksi duane retraction, baik minus, plus, atau silinder.

"Ortho-K dapat mengkoreksi hingga -6 diopters, dan juga minus 2.75 dioptres dalam silinder," ujar dr. Damara.

Ortho-K bisa diibaratkan seperti kawat gigi, di mana berfungsi untuk membentuk dan meratakan gigi. Tapi bedanya, kalau kawat gigi akan menetap dalam jangka waktu yang lama.

"Namun kalau Ortho-K ini karena bentuknya elastis, jika berhenti penggunaannya, kornea akan kembali ke bentuk semula dan tidak nyeri," pungkas dr. Damara.
(FIR)