FITNESS & HEALTH

Apakah Air Alkali Memang Memiliki Manfaat bagi Kesehatan?

Raka Lestari
Sabtu 09 Januari 2021 / 19:06
Jakarta: Menjaga tubuh agar tetap terhidrasi merupakan hal yang penting untuk kesehatan. Saat ini terdapat klaim yang menyebutkan bahwa air alkali (air dengan kandungan pH lebih dari 7) lebih bermanfaat dari air biasa. Namun, sebenarnya klaim kesehatan tersebut tidak benar atau masih belum bisa dibuktikan.

"Air alkali biasanya memiliki tingkat pH delapan atau sembilan. Selain itu, air alkali juga biasanya mengandung mineral alkali yang ditambahkan, seperti kalsium, magnesium, dan kalium," kata Luke Corey, RD, ahli diet kinerja di Mayo Clinic Orthopedics and Sports Medicine.

Lantaran air alkali memiliki tingkat pH yang lebih tinggi, maka dianggap bisa menetralkan keasaman alami dalam aliran darah kita. Para pendukung klaim ini mengatakan bahwa efek air alkali ini memiliki manfaat kesehatan tertentu yang tidak dimiliki air biasa. Namun sebagian besar, tidak ada manfaat kesehatan yang terbukti secara ilmiah untuk air alkali dibandingkan air biasa.

“Tubuh kita sudah melakukan pekerjaan yang baik untuk menjaga keseimbangan pH dengan sendirinya,” kata Kate Patton, RD, ahli diet terdaftar di Cleveland Clinic's Center for Human Nutrition.

Keseimbangan alami ini membuat air alkali sepertinya tidak memberikan banyak manfaat dan ketika air alkali masuk ke tubuh, justru akan menetralkan pH-nya.
 

Efek samping dari air alkali


Minum sebotol air alkali setiap hari tidak akan berdampak signifikan terhadap tubuh. Justru, minum air alkali dalam jumlah yang banyak, seperti satu galon atau lebih setiap hari, berpotensi mengganggu keseimbangan pH alami tubuh.

Hal ini juga dapat menyebabkan kondisi kesehatan seperti alkalosis, yang terjadi ketika aliran darah kehilangan terlalu banyak keasaman. Gejala alkalosis meliputi, kebingungan, tangan, tremor, dan mual.

Menurut Corey, beberapa kelompok sebaiknya menghindari air alkali. Sebab mineral dapat menumpuk di dalam tubuh mereka, seperti:

1. Orang dengan penyakit ginjal atau mengonsumsi obat yang memengaruhi fungsi ginjalnya.

2. Penderita penyakit gastrointestinal, seperti penyakit Crohn atau kolitis.
(FIR)