FITNESS & HEALTH

Ini Beda Herd Immunity yang Didapatkan Melalui Vaksin dengan Infeksi

Raka Lestari
Kamis 29 Oktober 2020 / 08:06
Jakarta: Pada masa pandemi covid-19, kita sering mendengar istilah herd immunity atau imunitas populasi atau imunitas komunitas. Hal ini bisa didapatkan melalui dua cara yaitu melalui imunisasi atau vaksinasi dan melalui infeksi.

“Kalau infeksi itu, suatu virus atau bakteri masuk ke tubuh kita. Lalu setelah kita terinfeksi, kita akan menjadi sakit. Pada sakit itulah baru keluar zat imunnya. Akan tetapi, jika terjadi infeksi seseorang bisa sakit, bisa meninggal, bisa cacat, ataupun dirawat,” jelas Prof. Dr. dr. Cissy Rachiana Sudjana Prawira-Kartasasmita, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, dalam Webinar Dialog Produktif 'Mendalami Vaksin dan imunisasi'.

Prof. Cissy menambahkan, kalau vaksin, itu tidak ada virus hidup. Ataupun kalau sudah ada virus yang dilemahkan, sudah tidak menyebabkan penyakit. Kalau vaksin pembentukan antibodinya tidak melalui sakit terlebih dahulu. Kalau infeksi melalui sakit terlebih dahulu.

“Jadi sebenarnya kalau melalui infeksi itu merugikan karena tentunya kita harus sakit terlebih dahulu. Lebih baik melalui vaksin, badan kita tetap bisa bereaksi tetapi tidak sakit terlebih dahulu,” ujar Prof. Cissy.

“Kalau melalui infeksi kan dianggapnya akan kebal dengan sendirinya. Padahal tidak bisa begitu saja, lebih banyak kerugiannya," sambungnya.

Ia menekankan bahwa untuk mencapai herd immunity melalui cara infeksi, sangatlah berisiko dan merugikan.

“Belum mengenai berapa banyak yang meninggal, penyakit yang bisa saja bertambah berat, rumah sakit akan penuh, alat-alat rumah sakit tidak cukup, itu kerugian kalau mendapatkannya melalui cara infeksi,” jelas Prof. Cissy.

“Jadi yang sebaiknya dilakukan adalah melalui imunisasi. Kalau imunisasi itu kan bisa dilakukan secara masal. Sedangkan kalau melalui infeksi memang tidak dianjurkan. Beberapa negara pun memang pernah mencoba melalu infeksi dan itupun gagal,” tutup Prof. Cissy.
(FIR)