FITNESS & HEALTH

Ahli: Gunakan Vaksin yang Sama antara Dosis Pertama dan Kedua

Raka Lestari
Rabu 14 April 2021 / 18:46
Jakarta: Pemberian vaksinasi covid-19, terbagi dari dosis pertama dan dosis kedua yang akan diberikan dengan selang waktu 2 – 4 minggu. 

Dan saat ini, di Indonesia sendiri ada beberapa vaksin covid-19 yang digunakan. Meskipun demikian, ahli menyebutkan agar dalam menggunakan vaksin covid-19 harus menggunan jenis yang sama antara dosis pertama dan kedua.

“Disarankan untuk vaksin pertama dan kedua, yang selangnya hanya 2 – 4 minggu itu menggunakan vaksin yang sama,” ujar Prof. Dr. Amin Soebandrio, Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, dalam acara Webinar yang dilakukan oleh Swiss German University “Seputar Vaksinasi Covid-19: Kenali Jenis dan Efek Sampingnya” pada Rabu, 14 April 2021.

Ia menambahkan, “Sedapat mungkin vaksin yang sama, apalagi kalau nanti kita menggunakan misalnya vaksin Sputnik dari Rusia. Vaksin itu memang didesain sepasang karena suntikan pertama yang diberikan itu menggunakan virus vektor yang adenovirus,” jelas Prof. Amin. 

“Jadi yang pertama memang didesain menggunakan adenovirus 26, kemudian suntikan kedua menggunakan adenovirus 5. Memang didesain seperti itu jadi memang harus berpasangan. Bahkan suntikan kedua tidak boleh diberikan dengan vaksin yang pertama. Misalnya suntikan pertama diberi adenovirus 26, kemudian suntikan kedua juga diberikan adenovirus 26. Itu tidak direkomendasikan,” tutur Prof. Amin. 

Menurutnya, untuk penggunaan vaksin covid-19 Sputnik dari Rusia memang harus diberikan pasangan vaksin yang memang sudah di desain sedemikian rupa. 

“Nah kalau untuk yang lain-lainnya, itu jauh lebih mudah sebenarnya selama menggunakan platform yang sama. Jadi nantinya kalau sudah 6 bulan atau 1 tahun, artinya untuk booster itu bisa untuk menggunakan vaksin yang lain. Vaksin yang manapun bisa dipakai, tapi 2 yang pertama itu sebaiknya vaksin yang sama,” tutur Prof. Amin. 

Lalu, apakah seseorang yang sudah sembuh dari covid-19 bisa tetap mendapatkan vaksin atau tidak?

“Data yang kami miliki memang sangat bervariasi. Penyintas ada yang punya antibodi cukup tinggi, ada juga yang tidak terlalu tinggi. Bahkan ada yang cepat hilang. Beberapa minggu sudh menurun drastis. Saat ini yang dijadikan patokan adalah, kalau masih punya antibodi itu belum perlu divaksinasi,” ujar Prof. Amin.

Untuk mengetahui apakah masih ada antibodi memang menurut Prof. Amin harus dilakukan pemeriksaan. 

“Kalau tidak ada kesempatan untuk memeriksa maka diambil patokan, minimum tiga bulan setelah sembuh itu baru boleh divaksinasi. Akan lebih baik lagi kalau bisa diperiksa antibodinya tapi antibodi yang menetralisasi diperiksa, itu jauh lebih baik,” papar Prof. Amin. 
 

Vaksin untuk Indonesia 


Dalam upaya mendukung vaksinasi di Tanah Air, Media Group bersama Slank menggelorakan kampanye sosial bertajuk "Vaksin untuk Indonesia". Kampanye ini adalah upaya untuk bersama-sama bangkit dari pandemi dan memupuk optimisme menuju normal baru dengan terus menjaga kesehatan fisik dan mental. 

Vaksin dalam tajuk ini bukan saja berarti "obat" atau "anti-virus", tetapi juga upaya untuk menguatkan kembali mental dan spirit kita di tengah kesulitan akibat pandemi.

"Slank dan Media Group bikin gerakan yang bertema 'Vaksin untuk Indonesia'. Berharap lewat musik dan dialog, acara ini bisa menyemangati dampak pandemi yang mengenai kehidupan kita, supaya tetap semangat. Kita hibur supaya senang, supaya imun kita naik juga. Mengajak masyarakat untuk jangan takut untuk divaksin. Ini salah satu solusi untuk lepas dari pandemi," terang drummer Slank, Bimo Setiawan Almachzumi alias Bimbim.

Program "Vaksin untuk Indonesia" tayang di Metro TV setiap hari Jumat, pukul 20:05 WIB. Dalam tayangan ini, SLANK bukan saja menyuguhkan musik semata, tetapi juga menampilkan perjalanan ke sejumlah tempat dan berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang sosial.


 
(TIN)