FITNESS & HEALTH

Kanker Paru di Indonesia Tak Hanya Disebabkan karena Perilaku Merokok

Raka Lestari
Rabu 24 November 2021 / 10:00
Jakarta: Berdasarkan data GLOBOCAN 2020 Kematian karena kanker paru di Indonesia meningkat sebesar 18 persen menjadi 30.843 orang dengan kasus baru mencapai 34.783 kasus. Situasi ini menjadikan kanker paru sebagai kanker paling mematikan dan harus dijadikan prioritas nasional.

Dr. Sita Laksmi Andarini, PhD, Sp.P(K), Anggota Pokja Onkologi Toraks Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengatakan, “Prevalensi kanker paru di Indonesia memang masih tinggi," ujarnya dalam acara Diskusi Publik #LungTalk, pada Selasa, 23 November 2021.

"Saat ini pengobatan yang bekerja spesifik sesuai tipe kanker paru sudah tersedia, baik bagi penyintas dengan Mutasi Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) positif ataupun negatif sesuai dengan pedoman internasional. Termasuk pembedahan, kemoterapi, terapi target dan imunoterapi,” kata dr. Sita.

Sering kali kanker paru hanya dikaitkan dengan perilaku merokok, sehingga ada anggapan bahwa upaya peningkatan akses pengobatan (kuratif) kanker paru belum memiliki urgensi seperti upaya promotif dan preventif.  


data kanker paru di Indonesia
(Dr. Sita Laksmi Andarini, PhD, Sp.P(K), Anggota Pokja Onkologi Toraks Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengatakan salah satu langkah yang terpenting adalah tindakan pencegahan (preventif) yaitu menjauhi rokok. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)


Namun ditemukan sebuah karakteristik unik di daerah Asia Pasifik, termasuk Indonesia, bahwa jumlah non perokok dan perempuan yang didiagnosis dengan kanker paru lebih tinggi dibandingkan dengan tempat lain di dunia.

Sehingga, kita tidak dapat mengesampingkan pentingnya meningkatkan akses ke pengobatan yang paling direkomendasikan untuk setiap jenis kanker paru.

"Satu lagi yang terpenting adalah tindakan pencegahan (preventif) yaitu menjauhi rokok, skrining kanker paru dan deteksi dini kanker paru. Skrining kanker paru adalah upaya mendiagnosis kanker sebelum terjadi   gejala. Skrining diharapkan dapat dilakukan pada usia dewasa, risiko tinggi yaitu riwayat merokok, perokok pasif, atau bekas perokok, riwayat pajanan pekerjaan, riwayat genetik kanker, dan riwayat fibrosis paru," kata dr. Sita.

Sedangkan deteksi dini adalah upaya untuk mendeteksi kanker dalam stage yang lebih dini, saat terjadi gejala yaitu batuk, batuk darah, sesak napas, nyeri dada. 

"Deteksi dini kanker paru hendaknya disatukan dengan program deteksi dini TB paru, sehingga dapat terdeteksi di stadium dini. Skrining dan deteksi dini dapat dilakukan melalui CT scan toraks dosis radiasi rendah (Low-dose CT thorax),” tutup dr. Sita.
(TIN)