FITNESS & HEALTH

Kaitan Kekurangan Vitamin D dengan Covid-19

Kumara Anggita
Selasa 27 Juli 2021 / 20:52
Jakarta: Sama seperti vitamin lainnya, vitamin D adalah vitamin yang bisa membuat kamu jadi lebih sehat dan bugar secara keseluruhan. Kekurangan vitamin ini sering dikaitkan dengan risiko yang ditimbulkan oleh covid-19. Kira-kira apa kaitannya ya?

Faktanya angka mortalitas pada orang yang terinfeksi covid-19 memang lebih tinggi pada orang yang kekurangan vitamin D

Vitamin yang bisa didapatkan melalui paparan sinar matahari ini, juga terbukti berperan penting dalam penyerapan kalsium tulang, dapat mengurangi resiko infeksi saluran pernapasan dan menjaga sistem imun tubuh.

Medical Senior Manager PT Kalbe Farma Dokter Esther Kristiningrum juga sempat menyebutkan bahwa vitamin D memiliki fungsi umum membantu efek antiinflamasi di dalam tubuh dan meningkatkan respons dari imun bawaan. Secara ilmiah vitamin ini dapat meningkatkan barier epitel dan meregulasi respons dari imunitas.

Indonesia sebagai negara tropis, pada kenyataannya, mempunyai tingkat prevalensi defisiensi vitamin D yang cukup tinggi. Sebuah data dari SEANUTS 2011-2012 mengatakan jika terjadi defisiensi vitamin D yang cukup tinggi, dimana 38,76 persen terjadi pada anak Indonesia yang berusia 2-12 tahun, sekitar 61,25 persen terjadi pada ibu hamil, 63 persen terjadi pada perempuan dewasa yang berusia 18-40 tahun, dan 78,2 persen pada usia lanjut.


vitamin d
(Dr. Jeffri Aloys Gunawan, Sp.PD, CHt menyebutkan seseorang dengan warna kulit yang semakin gelap yang membutuhkan semakin lama waktu berjemur. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)


Menurut seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Jeffri Aloys Gunawan, Sp.PD, CHt, terjadinya defisiensi vitamin D dalam tubuh disebabkan oleh beberapa faktor.

“Pertama, proses pembentukan vitamin D itu sendiri, seperti kondisi usia yang semakin tua yang dapat menyebabkan pembentukan vitaminnya berkurang, warna kulit yang semakin gelap yang membutuhkan semakin lama waktu berjemur, sedikitnya permukaan kulit yang terpapar saat berjemur dan berat badan," jelas dr. Jeffri dalam Acara Peluncuran Holisticare D3 1000.

"Kedua, hanya terdapat beberapa makanan yang mempunyai kandungan vitamin D, seperti jamur, kuning telur dan ikan berlemak,” tambah dr. Jeffri

Vitamin D terbentuk secara alami ketika kulit terkena sinar matahari langsung. Maka dari itu, semakin tertutup orang berpakaian, semakin sedikit penyerapannya. Jika hanya bagian kulit muka dan dan tangan yang terpapar sinar, maka orang tersebut hanya mendapatkan vitamin D sekitar 10 persen. 

Bagi orang yang mengenakan kaos dan celana panjang, penyerapan vitamin D-nya hanya sekitar 16 persen. Bagi orang yang mengenakan celana pendek saja ketika di pantai, penyerapan vitamin D-nya dapat mencapai 76 persen. 

(TIN)