FITNESS & HEALTH

Kulit Sehat Tidak Selalu Kulit yang Putih

Raka Lestari
Sabtu 28 November 2020 / 07:06
Jakarta: Memiliki kulit yang sehat tentu dambaan hampir semua orang, terutama pada wanita. Dan biasanya kulit yang sehat itu diidentikkan dengan kulit yang putih. Padahal tidak selalu seperti itu. Hal ini tentunya menjadi suatu yang perlu dipahami lebih dalam mengenai kulit yang sehat tidak selalu putih.

“Kalau kulit yang sehat itu kulit yang cerah, bebas dari noda, warnanya rata, kencang kulitnya, lembut, lembap, halus, kenyal, serta bebas dari penyakit kulit. Kulit yang sehat tidak sama dengan kulit putih. Kulit putih itu tidak penting, yang terpenting bersih, tidak kusam dan bercahaya,” ujar dr. Shannaz Nadia Yusharyahya, SpKK (K), MHA, seorang dermatologist, dalam acara Konferensi Pers Virtual Natur-E White, pada Jumat, 27 November 2020.

Ia juga menambahkan, jenis kulit orang Indonesia biasanya termasuk dalam tipe yang mudah menjadi gelap, dan terjadi hiperpigmentasi.

"Untuk mengatasi hal tersebut, dan membuat kulit menjadi lebih cerah merata diperlukan metode perawatan yang holistik, tidak hanya dari luar, tetapi juga harus dari dalam. Pemilihan produk perawatan kulit yang terbuat dari bahan alami yang sudah diuji akan sangat berpengaruh dalam proses mencerahkan kulit sehingga kondisinya tetap sehat dan terawat,” ujar dr. Shannaz.

“Untuk mencerahkan kulit, pertama usahakan mencegah pembentukan melanin. Paling sering dipakai krim mengandung hidrokuinon. Hidrokuinon ini jika digunakan lebih dari 2% dalam jangka panjang dapat menyebabkan efek samping hiperpigmentasi. Untuk itu, perlu monitoring  dari dokter,” ujar dr. Shannaz.

Kemudian menurut dr. Shannaz, cara yang kedua adalah dengan menghancurkan melanin.  “Menghancurkan melanin dengan menggunakan laser, tetapi penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan hiperpigmentasi,” ujarnya.

“Dan yang ketiga adalah mengangkat lapisan kulit mati atau peeling dengan menggunakan krim yang mengandung asam retinoat atau asam hidroksi alfa (AHA). Diperlukan monitoring dokter karena dapat menyebabkan iritasi dan penipisan kulit,” tutup dr. Shannaz.
(YDH)