FITNESS & HEALTH

Pentingnya Periksa D-Dimer Bagi Pasien Covid-19

Sandra Odilifia
Selasa 16 Februari 2021 / 15:07
Jakarta: Akhir-akhir ini istilah D-dimer ramai dikaitkan dengan penderita covid-19. Sebenarnya, ini bukanlah istilah baru. Banyak penyakit peradangan dan infeksi bisa menyebabkan kenaikan D-dimer termasuk kondisi kehamilan, begitupula dengan covid-19.

Melansir dari akun Instagram resmi dr. Adaninggar,dr,SpPD, @ningzsppd, D-dimer ini hanya salah satu dari sekian banyak alat bantu yang bisa digunakan dokter untuk mendiagnosis kondisi pasien.

Pada kondisi normal, bila ada kerusakan jaringan (luka) dan berdarah, secara normal mekanisme tubuh akan menghentikan perdarahan.

Dengan begitu, pembuluh darah berkontraksi kemudian trombosit akan berkumpul di tempat luka untuk membuat suatu "sumbatan". Lalu protein-protein pembekuan darah akan dikeluarkan. Kemudian benang-benang fibrin akan "mengikat" sumbatan sehingga pendarahan berhenti.

Setelah pendarahan berhenti, sumbatan yang ada harus dihilangkan dan darah harus dipertahankan agar tetap encer.

Artinya, sumbatan akan mengalami fibrinolisis (benang-benang fibrinnya dilepas dan dipecah), dan hasilnya pemecahan benang fibrin ini bisa diperiksa dalam bentuk D-dimer.
 

Keseimbangan hemostasis


Pada kondisi normal, ada yang disebut keseimbangan hemostasis, ini adalah kondisi di mana tidak terjadi pendarahan dan tidak terjadi pembekuan darah. Namun ada kondisi-kondisi tertentu yang mengganggu keseimbangan ini.

Karena D-dimer ini adalah suatu produk "sisa" dari benang fibrin yang terbentuk akibat pembekuan darah, maka D-dimer akan meningkat pada semua kondisi yang menyebabkan banyak terbentuknya pembekuan darah.

Pemeriksaan D-dimer ini sensitif menunjukkan adanya kecenderungan terjadi pembekuan darah namun tidak spesifik karena penyebabnya banyak, seperti kerusakan endotel pembuluh darah (peradangan karena infeksi berat, operasi, trauma, peradangan pada penyakit kronis DM, hipertensi, dll), kecenderungan darah membeku (kehamilan, hormon, genetik, dll) dan aliran darah yang stasis (berbaring lama karena sakit, gagal jantung, kehamilan).

Pada penderita covid-19, sangat mudah terjadi gangguan keseimbangan hemostasis, yakni kecenderungan untuk membentuk bekuan darah.

Lebih lanjut, yang terjadi adalah kerusakan endotel pembuluh darah akibat peradangan karena virus dan respons imun manusia serta penyakit komorbid (diabetes, hipertensi penyakit jantung, penyakit ginjal, kanker, proses penuaan). Selain itu, kerusakan endotel juga terjadi akibat adanya antibodi antifosfolipid ke vaskulitis.


covid
(Melansir dari akun Instagram resmi dr. Adaninggar,dr,SpPD, yang merupakan National Board Certified Internist, Health Educator, Medic teams of @pandemictalks, Founder @internaisfun, sekaligus Survivor Covid @covidsurvivor.id, D-dimer ini hanya salah satu dari sekian banyak alat bantu yang bisa digunakan dokter untuk mendiagnosis kondisi pasien. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)

 
Bagi pasien covid-19 dengan kondisi sedang hingga berat, lebih banyak tirah baring sehingga aliran darah stasis. Kemudian munculnya banyak protein pembekuan darah akibat kerusakan endotel pembuluh darah yang terjadi di banyak tempat.

Pada pedoman tata laksana covid-19 Nasional pada Desember 2020, pemeriksaan D-dimer menjadi salah satu pemeriksaan yang memang dianjurkan dan dimonitor pada pasien-pasien covid-19 terutama gejala sedang hingga berat. 

Tentu bersama dengan pemeriksaan lain seperti marker inflamasi (CRP) dan marker koagulopati lain seperti trombosit, faal hemostasis, dan fibrinogen.

Kenaikan nilai D-dimer yang signifikan (3-4 kali) dapat menjadi faktor prognosis atau prediksi akan terjadinya suatu kondisi peradangan covid-19 berat dan kematian.
 

Bagaimana untuk pasien yang tidak dirawat di RS?


Pemeriksaan rutin D-dimer untuk pasien tanpa gejala dan gejala ringan tidak direkomendasikan kecuali bila ada faktor risiko tertentu. Oleh sebab itu, penting untuk konsultasi ke dokter.

Pemberian obat-obat antipembekuan darah (antiplatelet atau antikoagulan) sebagai pencegahan pada pasien kondisi tanpa gejala atau gejala ringan juga tidak direkomendasikan. Hal ini harus di konsultasikan dulu ke dokter karena berisiko tinggi pendarahan bila konsumsi tanpa indikasi dan tanpa pengawasan.

Cara menurunkan nilai D-dimer yang tinggi adalah dengan mengobati penyebabnya. Pada penderita covid-19, obati peradangan yang terjadi, obati penyakit-penyakit komorbid yang ada, perbaiki kondisi-kondisi lain seperti mobilisasi bila sudah membaik, dan sebagainya. 

Kembali lagi, pemberian obat antikoagulan hanya sesuai pertimbangan dari dokter yang menangani.

Oleh karena itu kesembuhan pada pasien covid-19, terutama kondisi berat tidak hanya berdasarkan swab yang negatif tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana kondisi pasien secara holistik termasuk kondisi peradangan dan komorbidnya. Tentu perlu monitor lanjutan sesuai indikasi dan kondisi pasien masing-masing.

Hal itu untuk menghindari disinformasi diantara masyarakat, karena banyak kasus yang salah diartikan, seperti saat pasien dinyatakan sembuh karena swab negatif tapi peradangan masih berlangsung dan kemudian pasien meninggal.

D-dimer adalah salah satu penanda kecenderungan pembekuan darah dan dapat membantu dokter dalam menentukan prognosis pasien covid-19. Jika mengalami hal itu, pengobatan yang dilakukan adalah mengobati pasien secara holistik dengan mengobati penyebab kenaikan D-dimer. Perlu diingat, untuk pasien covid-19 dengan kondisi berat perlu kehati-hati dalam menentukan kesembuhannya.
(TIN)