FITNESS & HEALTH

Mengukur Tingkat Stres melalui Kotoran Telinga

Antara
Senin 09 November 2020 / 15:10
Jakarta: Seberapa berat tingkat stres yang kamu alami? Sebuah studi dalam Jurnal Heliyon bisa menjawabnya melalui kotoran telingamu.

Dalam studi percontohan melibatkan 37 orang partisipan, para peneliti yakni, Andres Herane-Vives dan koleganya di University College London's Institute of Cognitive Neuroscience and Institute of Psychiatry ditemukan beberapa hasil. Yaitu, kortisol lebih terkonsentrasi di kotoran teliga daripada di rambut, sehingga lebih mudah untuk dianalisis.

Kortisol sendiri adalah hormon penting yang melonjak saat seseorang stres dan menurun saat mereka rileks. Hormon itu seringkali meningkat secar konsisten pada orang dengan depresi dan kecemasan.

Menurut peneliti, kotoran telinga stabil dan tahan terhadap kontaminasi bakteri. Sehingga dapat dikirim ke laboratorium dengan mudah untuk dianalisis. Selain itu, kotoran telinga juga dapat menyimpan catatan tingkat kortisol selama berminggu-minggu.

Di sisi lain, teknik usap atau swab yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan kotoran telinga, menurut para partisipan jauh lebih nyaman dari metode lain.

Sebenarnya, para peneliti juga melakukan metode pemeriksaan melalui air liur, darah, dan rambut. Namun, sampel air liur dan darah hanya menangkap sesaat, dan kortisol berfluktuasi secara signifikan sepanjang hari.

Sementara jika menggunakan sampel rambut, memang dapat memberikan gambaran singkat tentang kortisol selama beberapa bulan. Kelemahannya, analisis ini tergolong mahal.

Pemeriksaan melalui kotoran telinga sendiri sebelumnya juga menyakitkan, karena melibatkan jarum suntik. Untuk itulah, Herane-Vives dan rekan-rekannya mengembangkan swab yang, jika digunakan, tidak akan lebih membuat stres.

"Setelah studi percontohan yang berhasil ini, jika perangkat kami dapat diteliti lebih lanjut dalam uji coba yang lebih besar," ucap salah satu peneliti dilansir dari Antara.

"Kami berharap dapat mengubah diagnosis dan perawatan bagi jutaan orang dengan depresi atau kondisi terkait kortisol seperti penyakit Addison dan sindrom Cushing, dan kemungkinan banyak kondisi lainnya," sambungnya.

Ke depannya, para peneliti ini berharap kotoran telinga juga bisa digunakan untuk memantau hormon lain. Para peneliti juga perlu menindaklanjuti penelitian terhadap orang Asia, yang tidak disertakan dalam studi percontohan ini. Sebab sebagian mereka menghasilkan kotoran telinga yang kering, bukan kotoran telinga yang basah dan berlilin.
(FIR)