FITNESS & HEALTH

Operasi Jantung Selama Masa Pandemi, Apa Saja yang Perlu Diketahui?

Raka Lestari
Kamis 06 Mei 2021 / 22:15
Jakarta: WHO menunjukkan bahwa penyakit jantung koroner menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia tahun 2015. Faktor risiko penyakit jantung sama dengan hipertensi dan stroke yaitu ada yang tidak dapat diubah (usia, jenis kelamin, keturunan/ras).

Serta yang dapat diubah (kurang aktivitas fisik, obesitas, diet tidak sehat, stres, konsumsi alkohol, merokok, dislipidemia, diabetes melitus).

Pada umumnya gejala dari penyakit jantung koroner diantaranya keringat dingin, nyeri dada, ada rasa berat dan tertekan di dada, serta rasa mual atau nyeri pada ulu hati. Jika mengalami gejala ini segera konsultasikan ke dokter.

“Kebanyakan masyarakat kurang waspada terhadap gejala-gejalanya dan banyak yang menganggap hanya ‘masuk angin’,” ujar dr. Muhammad Arza Putra, Sp.BTKV (K) yang juga Direktur Pelayanan Medik RSUI.

Operasi Jantung Bypass (Coronary Artery Bypass Graft/CABG) dapat menjadi salah satu terapi penanganan dari penyakit jantung koroner. 

Tindakan ini dilakukan dengan menyambungkan pembuluh darah yang sehat sebagai “jalur” baru untuk mengalirkan darah ke pembuluh darah yang tersumbat atau mengalami penyempitan.

Tidak semua pasien dapat dilakukan operasi bypass. Beberapa kriterianya yaitu pasien dengan penyempitan pembuluh darah yang berat atau penyumbatan penyumbatan pembuluh darah jantung/koroner, penyempitan terjadi pada lebih dari tiga pembuluh darah jantung/koroner, nyeri dada berat, dan serangan jantung yang tidak dapat diobati dengan terapi obat-obatan. 


jantung
(Dr. Muhammad Arza Putra, Sp.BTKV (K) selaku Direktur Pelayanan Medik RSUI mengatakan masyarakat kurang waspada terhadap gejala-gejala penyakit jantung dan banyak yang menganggap hanya ‘masuk angin’. Foto: Ilustrasi/Freepik.com)


Tim dokter juga akan melakukan melakukan pemeriksaan secara detail sebelum memutuskan apakah pasien membutuhkan operasi jantung atau tidak.

Di era pandemi covid-19, pasien yang akan melaksanakan operasi jantung harus dipastikan tidak sedang terinfeksi covid-19. Jika menderita covid-19, operasi jantung ditunda minimal tujuh minggu setelah sembuh dari covid-19.

“Covid-19 dapat menyebabkan kerusakan jantung dan butuh perbaikan selama beberapa minggu setelah sembuh, apabila operasi dilakukan terburu-buru dapat meningkatkan risiko komplikasi," ucap dr. Arza.

"Tim dokter terlebih dahulu akan memastikan bahwa pasien telah sembuh dari covid-19, sehingga dapat direncanakan untuk melakukan operasi pada waktu yang tepat," tambah dr. Arza.

Dokter Arza memaparkan beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum operasi jantung di antaranya:

(1) stop merokok dua minggu sebelum operasi
(2) hentikan penggunaan obat pengencer darah sebelum operasi
(3) pemeriksaan komprehensif seperti rekam jantung, foto rontgen, dan laboratorium sebelum operasi
(4) puasa satu hari sebelum operasi
(5) swab PCR covid-19 sebelum operasi elektif/terjadwal

Semua informasi terkait operasi akan dijelaskan kepada pasien sebelum operasi.

(TIN)