FITNESS & HEALTH

Bagaimana Menjaga Kesehatan Mental 'Generasi Sandwich'?

Mia Vale
Rabu 18 Mei 2022 / 08:05
Jakarta: Apakah kamu pernah mendengar istilah ‘generasi sandwich’? Generasi sandwich (sandwich generation) adalah suatu istilah yang merujuk pada sekelompok individu yang “terjepit” di antara tuntutan simultan.

Ia harus merawat orang tuanya yang telah lanjut usia, merawat anak-anaknya yang masih bergantung padanya, baik secara fisik, mental-emosional, maupun finansial (Ward & Spitze, 1998). 

Istilah generasi sandwich pertama kali diperkenalkan oleh dua orang pekerja sosial yaitu Dorothy Miller dan Elaine Broody pada 1981 untuk menggambarkan pelaku rawat (caregiver) yang terjepit di antara dua generasi. 

Sebagai seorang pelaku rawat, individu yang berada di generasi sandwich ini umumnya dituntut untuk memberikan dukungan fisik, mental-emosional, dan finansial baik bagi anak-anaknya dan juga orang tuanya yang telah lanjut usia. 

Secara umum, karakteristik individu yang berada di generasi sandwich biasanya adalah pria dan wanita berusia 30 tahun ke atas yang telah menikah, dan bekerja.

Generasi sandwich menanggung beban dan tanggung jawab dalam memberikan perawatan dan layanan seperti transportasi, pengaturan makan, perawatan kesehatan, dan urusan rumah tangga lainnya, baik bagi anak-anaknya maupun orang tuanya. 

Survei di Amerika Serikat tahun 2007 menunjukkan bahwa generasi sandwich yang terdiri dari usia 35 – 54 tahun, mengalami tingkat stres lebih tinggi karena dituntut untuk menyeimbangkan peran dalam perawatan anak dan juga orang tua mereka. 

Hampir 40 persen wanita generasi sandwich melaporkan tingkat stres yang ekstrem. Stres ini tidak hanya memengaruhi relasi personal terhadap pasangan, anak dan keluarga, namun juga memengaruhi kesejahteraan diri sendiri


usia berapa generasi sandwich
(Kesibukan menjalankan peran mengurus dua generasi kadang membuat seorang wanita generasi sandwich tidak memiliki waktu untuk diri sendiri. Ambil waktu khusus untuk melakukan hal bagi diri sendiri, misalnya mengerjakan hobi atau sekedar bersantai, dan memanjakan diri. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)


Generasi sandwich yang menjadi pelaku rawat bagi dua generasi ini lebih rentan mengalami berbagai masalah kesehatan mental, antara lain:

- Burnout (kelelahan fisik dan mental)
- Gangguan tidur (banyak tidur atau kurang tidur)
- Perasaan bersalah
- Merasa khawatir terus-menerus
- Hilang minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disenangi
- Ansietas (kecemasan), dan
- Depresi

Pada akhirnya, kondisi mental tersebut juga bisa memengaruhi kesehatan fisik, seperti:

- Kadar hormon stres yang lebih tinggi
- Lebih sering izin sakit dari pekerjaan kantor karena terinfeksi penyakit menular
- Respons imunitas yang lebih rendah terhadap influenza
- Penyembuhan luka yang lebih lambat
- Tingkat obesitas lebih tinggi, dan
- Risiko penurunan kesehatan mental yang lebih tinggi 
 

Strategi generasi sandwich


Tantangan menjadi bagian dari generasi sandwich di masa pandemi covid-19 semakin meningkat karena kebutuhan untuk merawat kesehatan anak dan orang tua agar terlindungi dari infeksi covid-19 juga semakin besar. 

Pada saat yang bersamaan, individu tersebut juga harus tetap menjaga imunitas dirinya agar tidak terinfeksi. Karenanya, penting sekali bagi generasi sandwich untuk memelajari cara menjaga kesehatan diri, baik fisik maupun mental, serta menyeimbangkan berbagai peran yang dimilikinya. 

Peran multipel dari generasi sandwich memiliki dampak negatif baik dari aspek fisik, psikologis, emosional, dan beban finansial (Salmon, 2017). 

Penelitian Evans dkk. pada tahun 2016 menunjukkan bahwa seorang wanita pada generasi sandwich perlu memiliki strategi untuk dapat menyeimbangkan antara peran sebagai seorang ibu, pelaku rawat orang lanjut usia, dan pekerja.

Ada enam strategi untuk menyeimbangkan peran tersebut seperti yang ditulis oleh  dr. Zulvia Oktanida Syarif, Sp.KJ, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dari RS – Pondok Indah - Pondok Indah untuk Medcom.id yaitu:

1. Menjaga kesehatan dan kesejahteraan
2. Menekan perfeksionisme
3. Mengelola waktu dan energi
4. Melepaskan tanggung jawab
5. Memelihara hubungan sosial dan timbal balik
(TIN)