FITNESS & HEALTH

Adanya Peningkatan Kasus Kematian Ibu dan Anak Saat Pandemi, Tak Perlu Takut ke Rumah Sakit

Raka Lestari
Selasa 14 September 2021 / 15:46
Jakarta: Tingkat kematian ibu dan bayi pada masa pandemi covid-19 ini mengalami peningkatan. Salah satu penyebab yang mungkin terjadi adalah keragu-raguan untuk rutin mengontrol kandungannya. Mengingat rumah sakit bisa menjadi tempat penyebaran covid-19.

“Saya kira memang ada kecenderungan bahwa di masa pandemi ini terjadi peningkatan angka kematian ibu dan bayi,” kata Prof. dr. Abdul Kadir, Ph.D, Sp. THT-KL (K), MARS, Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes, dalam temu media World Patient Safety Day, pada Selasa, 14 September 2021.

Ia menambahkan, “Pertama, hal itu disebabkan bahwa kita tidak bisa atau tidak mampu melayani pelayanan esensial secara nyata pada masa pandemi ini karena banyak kegiatan/program yang tidak bisa dilaksanakan,” ujar Prof. Kadir.

“Namun demikian saya kira kenaikannya tidak terlalu signifikan. Dan masih dalam batas-batas yang wajar. Tanggung jawab kita semua di masa pandemi ini, diharapkan bahwa pelayanan esensial tetap bisa dilaksanakan,” tambah Prof. Kadir.



(Dr. Bambang Tutuko, Sp. An, KIC, Ketua Komite Nasional Keselamatan Pasien mengatakan bahwa ibu hamil tak perlu takut memeriksakan kehamilan di rumah sakit karena para tenaga kesehatan di fasilitas layanan kesehatan aman. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)


Dan bagi para ibu serta calon ibu, tidak perlu khawatir jika harus berkunjung ke rumah sakit untuk mengecek kandungannya. “Sekarang di rumah sakit itu kita sudah pnya buku panduan," ucap Prof. Kadir.

"Kita sudah mengeluarkan panduan pelayanan pasien esensial atau pasien non covid-19 di masa pandemi ini. Jadi memang di rumah sakit itu kita wajibkan untuk melakukan pemisahan,” jelas Prof. Kadir.

“Jadi memang kami di rumah sakit melakukan pemisahan zoning. Ada red zone dan green zone, dan ada juga yang abu-abu. Pasien begitu masuk rumah sakit itu sudah kita berikan satu kuesioner. Kita lakukan pemeriksaan suhu, dan seterusnya. Dan untuk mereka yang akan dirawat atau dilakukan operasi, itu mereka harus melakukan pemeriksaan PCR,” kata dr. Bambang Tutuko, Sp. An, KIC, Ketua Komite Nasional Keselamatan Pasien.

Dan menurut dr. Bambang, para tenaga kesehatan di fasilitas layanan kesehatan aman karena semua tenaga fasilitas layanan kesehatan sudah diimunisasi. “Dan kalau mereka ada kontak, kita akan langsung melakukan tracing,” ujarnya.

“Kita berani memastikan bahwa kami yang bekerja di rumah sakit ini aman untuk pasien yang datang. Baik pasiennya maupun keluarganya, dan kami juga membatasi jumlah pendamping untuk pasien. Jadi kalau pendamping biasanya bisa satu keluarga, saat ini pendamping hanya satu,” tutup dr. Bambang.

(TIN)