FITNESS & HEALTH

Ini Penyebab Remaja Rentan Kesepian saat Pandemi

A. Firdaus
Kamis 22 Juli 2021 / 16:19
Jakarta: Selain berpengaruh pada kondisi fisik, pandemi covid-19 juga berdampak pada psikologis. Berbagai kondisi kejiwaan kerap muncul dan semakin parah akibat pandemi ini.

Diketahui, pandemi covid-19 dengan tingkat penularan yang cepat membuat semua aturan dilakukan di semua negara, demi memutus mata rantai virus. Dari hal penanganan, hingga upaya-upaya pencegahannya dengan sejumlah pembatasan kegiatan masyarakat. Seperti PSBB kala itu hingga PPKM Darurat berbagai level saat ini.

Kebijakan seperti pembatasan kerumunan, pekerjaan, dan lainnya ternyata berdampak serius terhadap kejiwaan. Lebih memprihatinkan lagi tekanan psikologis, seperti kecemasan, kesepiaan, hingga perasaan bunuh diri banyak dialami masyarakat di kelompok usia muda.

Studi peneliti di University Toronto Kanada, menyebut saat pandemi covid-19 kasus depresi psikologis meningkat, hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan masa sebelum pandemi. Usia di bawah 24 tahun merupakan usia yang paling rentan mengalaminya.

Sementara di dalam negeri, distres psikologis selama pandemi covid-19 juga diteliri sejumlah akademisi. Pendampingan serius dilakukan bagi kelompok-kelompok usia rentan ini, agar dampak buruk pandemi tidak semakin melebar.

Staf Pengajar Fakultas Psikologi Universitas Yarsi, Ratih Arrum Listiyandini dan staf Pengajar Fakultas Psikolgi Universitas Negeri Sunan Gunung Jati, Bandung Ario Bima Fathoni, juga meneliti mengenai kebersyukuran, kesepian, dan distres psikologis pada mahasiswa di masa pandemi covid-19.

Penelitian dilakukan pada Mei 2020 ke 306 mahasiswa di Jabotetabek dan Bandung. Dari penelitian itu ditemukan bahwa, lebih dari 20% mahasiswa mengalami peningkatan terhadap gejala depresi, kecemasan, dan juga stres, serta mengalami kesepian.

Kalangan remaja menuju usia dewasa muda menjadi paling rentan terkena masalah psikologis seperti depresi, kecemasan, stres hingga kesepian. Pasalnya, kelompok di usia dewasa muda masih memiliki tugas membentuk sebuah kedekatan atau intimasi dengan orang lain.

"Pembatasan sosial yang dilakukan oleh pemerintah menyebabkan tak terpenuhinya tugas mereka yang sedang membentuk sebuah kedekatan itu. Mereka yang biasa nongkrong di kafe, jadi tak bisa. Paling hanya media sosial saja," ujar Arrum saat diwawancarai secara virtual dalam program Selamat Pagi Indonesia Metro TV.

"Jadi munculah masalah-masalah kesepian itu, terutama bagi mereka yang memiliki kepribadian seperti ekstrovert yang memang membutuhkan energi dari orang lain dan perlu bertemu dengan orang banyak, biasanya akan lebih rentan mengalami masalah kesepian di masa karantina sekarang ini," pungkasnya.
(FIR)