FITNESS & HEALTH

Anak Gemuk, Apakah Selalu Sehat?

Raka Lestari
Kamis 29 Juli 2021 / 13:44
Jakarta: Banyak orang yang menganggap bahwa anak bertubuh gemuk adalah tanda bahwa anak tersebut sehat. Padahal, anak yang sehat tidak hanya ditentukan dari tubuhnya, melainkan dari berbagai faktor.

Tidak hanya berat badannya saja. Selain itu, kemampuan anak yang sesuai umur juga bisa menjadi faktor lain untuk menentukan kesehatan anak.

“Jadi untuk kita mengatakan anak ini gemuk atau kurus, kita butuh data yang objektif. Kita pastikan saja berat badan dan tinggi badan anak-anak kita ke dalam kurva pertumbuhan. Dari berbagai aplikasi yang dari IDAI atau Primaku itu sudah bisa diakses di setiap ponsel,” ujar dr. Lucia Nauli Simbolon, SpA - Dokter Spesialis Anak.

Lebih lanjut, dr. Lucia menambahkan, Kemudian di-plotting, apakah anak gizinya kurang atau termasuk gizi lebih.

"Atau dalam setahun terakhir ini mungkin grafiknya naik sekali karena mungkin di rumah saja ya jadi yang berat badannya naik 8-10 kg dalam setahun itu banyak sekali,” ujar dr. Lucia.

Jadi jangan langsung mengidentifikasikan anak ini gemuk berarti sehat, tidak seperti itu. Yang dibutuhkan adalah anak yang sehat, berat badan dan tinggi badan sesuai dengan kurva pertumbuhan dia.

"Sesuai dengan usianya dia. Jadi tidak stunting tapi juga tidak obesitas,” jelas dr. Lucia.

Pada anak-anak juga ada kondisi yang disebut malnutrisi. Menurut dr. Lucia malnutirisi bukan hanya gizi kurang, tetapi juga gizi lebih atau obesitas.

“Itu yang perlu diperhatikan nomor satu adalah asupannya. Apakah dia makan-makanan yang berlebihan, tinggi garam atau tinggi gula,” tutur dr. Lucia.  

“Atau misalnya kalau dia konsumsi buah-buahan yang tinggi gula asal tidak ditambah lagi dengan gula tambahan kan tidak apa-apa. Tapi kalau yang sering salah itu kita membuat jus tapi ditambahkan gula. Atau mungkin madunya berlebihan. Nah itu yang menyebabkan anak konsumsi gulanya berlebihan,”’ kata dr. Lucia.  

Ditambah lagi pada masa pandemi ini, aktivitas gerak mereka juga lebih terbatas. Untuk itu, orang tua idealnya membiasakan anak-anak untuk bergerak di dalam rumah, setidaknya satu jam sehari.

“Dan untuk pemberian buah-buahan sih sebenarnya tidak apa-apa kan kita variasikan jenis-jenis buahnya asal tidak ditambah gula tambahan. Atau tidak mengonsumsi snack yang siap saji secara sering. Biasanya itu tinggi kandungan garam dan gulanya, menyebabkan retensi cairan sehingga anaknya laper terus akibatnya obesitas,” tutup dr. Lucia.
(FIR)