FITNESS & HEALTH

Studi: Vaksin Covid-19 Sinopharm Efektif Melawan Varian Delta

Raka Lestari
Rabu 21 Juli 2021 / 17:12
Jakarta: Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Sri Jayewardenepura menyatakan bahwa, vaksin Sinopharm Covid-19 terbukti efektif melawan varian Delta. Studi ini menemukan bahwa lebih dari 95 persen sampel mengembangkan antibodi setelah vaksin Sinopharm.

Studi ini dilakukan oleh Unit Alergi, Imunologi dan Biologi Sel dari Departemen Kedokteran Molekuler dan Molekuler Imunologi di Universitas Sri Jayewardenepura. Penelitian tersebut mempelajari 323 orang berusia di atas 21 tahun yang divaksinasi di Kolombo serta 36 orang yang telah tertular Covid-19 secara alami.

“Respons imun yang diselidiki terhadap vaksin Sinopharm menemukan bahwa vaksin menginduksi respons antibodi pada lebih dari 95 persen individu, mirip dengan tingkat yang terlihat setelah penyakit Covid-19 alami,” tulis sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Universitas Sri Jayewardenepura.

Pernyataan itu menambahkan bahwa vaksin Sinopharm ternyata sangat efektif melawan varian Delta juga. Respons antibodi terhadap varian delta dan antibodi penetralisir mirip dengan tingkat yang terlihat setelah infeksi alami.

Menurut ringkasan temuan sebanyak 95 persen individu serokonversi setelah dua dosis vaksin Sinopharm, menunjukkan tingkat serokonversi yang sangat tinggi yaitu 98,9 persen. Tingkat serokonversi pada orang di atas 60 tahun sedikit lebih rendah yaitu 93,3 persen.

“Vaksin menginduksi antibodi penetralisir pada 81,25 persen penerima vaksin dan tingkat antibodi penetral ini serupa dengan tingkat yang terlihat setelah infeksi alami. Tingkat antibodi untuk delta dan beta serupa dengan tingkat setelah infeksi alami meskipun tingkat antibodi lebih rendah untuk alfa,” menurut pernyataan studi.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Unit Alergi, Imunologi dan Biologi Sel Departemen Imunologi Molekuler dan Kedokteran Molekuler Universitas Sri Jayewardenepura, ini berangggotakan Prof. Neelika Malavige dan Dr. Chandima Jeewandara, serta Dewan Kota Kolombo, dan para peneliti dari Universitas Oxford termasuk Prof. Graham Ogg dan Prof. Alain Townsend.
(FIR)