FITNESS & HEALTH

Cara Memenuhi Nutrisi Penting pada Anak Jika Mengalami Alergi Susu Sapi

Raka Lestari
Kamis 01 April 2021 / 12:52
Jakarta: Kondisi alergi susu sapi adalah salah satu tantangan kesehatan yang sering dialami oleh anak-anak. Gejala yang muncul dari kondisi ini bisa berbeda-beda pada setiap anak, tetapi umumnya berupa ruam merah yang gatal, bengkak, bersin-bersin, pilek, batuk, mata berair, sakit perut, muntah atau diare.

Konsultan Alergi dan Imunologi Anak, Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr.,SpA(K), M.Kes menyatakan bahwa selain menimbulkan gejala, kondisi anak yang alergi susu sapi juga membuatnya rentan mengalami kekurangan nutrisi penting, salah satunya adalah zat besi. Padahal, zat besi merupakan salah satu nutrisi esensial yang dapat mendukung anak yang alergi susu sapi dapat tetap tumbuh maksimal.

“Adanya risiko kekurangan zat besi yang lebih tinggi pada anak yang alergi susu sapi dapat disebabkan karena anak mengalami pembatasan jenis asupan makanan yang tidak sesuai, serta adanya risiko inflamasi pada saluran cerna, sehingga dapat  menyebabkan anak tidak memperoleh kecukupan asupan nutrisi penting,” jelas Prof. Budi, dalam Webinar “Festival Soya Generasi Maju” pada Rabu, 31 Maret 2021.

Lebih lanjut Prof. Budi menjelaskan, permasalahan anak yang alergi susu sapi ini tidak bisa diremehkan, karena dampak dan prevalensi-nya yang umum ditemukan pada usia di awal kehidupan. "Oleh karena itu, penting untuk memastikan nutrisi yang tepat dan adekuat pada awal kehidupan anak, terutama bagi anak yang alergi  susu sapi," ujarnya.

"Di sini, peran penting orang tua khususnya Bunda sangat diperlukan untuk tetap tanggap dalam penanganan kondisi anak. ASI merupakan yang terbaik bagi anak yang tidak cocok susu sapi, segera konsultasikan dengan dokter anak untuk dapat diagnosa dan penanganan yang tepat," ujar Prof. Budi.

"Bunda dengan kondisi anak yang tidak cocok susu sapi juga tidak perlu khawatir dalam pemenuhan nutrisinya karena sesuai anjuran tenaga kesehatan atau dokter terdapat beberapa pilihan pengganti protein susu sapi seperti protein terhidrolisa ekstensif atau asam amino. Namun, jika terdapat kendala dalam memperoleh alternatif tersebut dapat diberikan isolat protein soya sesuai dengan anjuran dan edukasi dari dokter,” tambah Prof. Budi.

Prof Budi juga menjelaskan bahwa sejumlah penelitian telah membuktikan bahwa pola pertumbuhan, kesehatan tulang dan fungsi metabolisme, penyerapan zat mineral tubuh, fungsi saraf, serta fungsi hormonal dari anak-anak yang mengonsumsi isolat protein soya tidak berbeda dengan anak-anak yang mengonsumsi susu sapi.
(YDH)